Tags

, ,

Siapa bilang kutubuku itu kuper dan nggak suka pesta? Menurut saya, ada satu pesta yang nggak akan pernah dilewatkan oleh kutubuku manapun: pesta buku =D

Pesta buku sebenarnya merupakan sebutan untuk bazaar atau pameran buku, tempat berbagai stand toko buku menjaja dagangannya dengan discount yang termasuk besar. Biasanya acara semacam ini diadakan penyelenggara yang sama setahun sekali, meski nggak tertutup kemungkinan acara yang sama diselenggarakan lebih dari satu kali setiap tahunnya.

Kalau di Indonesia, acara paling heboh setiap tahunnya ada dua, Pesta Buku Jakarta (PBJ), yang diadakan setiap pertengahan tahun, dan Indonesian Book Fair (IBF), yang biasanya dijadwalkan di akhir tahun. Sebenarnya rata-rata pesertanya sama, penerbit-penerbit lokal besar dan kecil, juga toko-toko buku termasuk yang berbahasa Inggris. Yang ditawarkan tentu saja diskon gila-gilaan, kadang-kadang juga untuk beberapa buku yang baru terbit. Kalau datang ke acara seperti ini, biasanya saya browsing-browsing dulu, mana yang diskonnya minimal 40%, baru beli deh. Karena kalau diskonnya hanya 20%, kok rasanya nggak rela..Toko buku online saja sekarang rata-rata diskonnya bisa sampai 20% kok.

PBJ 2012- siapa yang nggak tergoda kalau tawarannya seperti ini? =)

Terakhir, saya datang ke Pesta Buku Jakarta bulan Juli kemarin di Istora Senayan. Yang lagi seru adalah stand penerbit Matahati, bukunya ada yang diskon sampai di atas 50%. Sempat ada gosip kalau Matahati sudah tutup, makanya sedang menghabiskan stok dan bukunya diobral gila-gilaan. Terlepas benar tidak nya gosip tersebut (mudah-mudahan sih nggak bener ya), yang pasti stand yang menjual buku-buku Matahati diserbu oleh sebagian besar pengunjung.

Hasil borong PBJ12 kemarin, 200 ribuan aja habisnya, 4 buku bhs Inggris dan 4 buku bhs Indonesia ๐Ÿ™‚

Beberapa stand yang juga langganan memberikan diskon adalah penerbit Serambi dan penerbit Ufuk. Serambi sering mengobral buku-buku lamanya dengan tidak tanggung-tanggung. Misalnya, dulu saya pernah membeli Pope Joan seharga 17k saja ๐Ÿ™‚ Begitu juga dengan penerbit Ufuk yang berani mendiskon buku-bukunya hingga 40%. Kesempatan langka memperoleh buku-buku Ufuk dengan harga terjangkau, karena biasanya Ufuk membandrol buku-bukunya dengan harga yang lumayan mahal. Kadang, buku terjemahan Ufuk lebih mahal daripada buku mass paperback berbahasa Inggris yang dijual di Periplus.

Speaking of Periplus, ini adalah toko buku bahasa Inggris favorit saya di acara pesta-pesta buku. Gimana nggak? Periplus tidak tanggung-tanggung mendiskon buku-buku mass paperbacknya, kadang yang sudah didiskon 50%, ehhh didiskon lagi 20%. Asalkan kita betah ngubek-ngubek boksnya bersama para pengunjung lain, biasanya ada saja buku best seller, bahkan buku yang belum terlalu lama terbit, yang didiskon lebih dari separo harga asli.

Nah, kalau Gramedia bagaimana? Biasanya, di acara seperti PBJ dan IBF, Gramedia memang ikut berpartisipasi. Tapi diskon yang diberikan tidak terlalu menarik, rata-rata hanya 10 sampai 20% saja. Pikir-pikir, rugi banget beli buku di acara diskonan, tapi hanya berkurang 10% yah? Menurut saya, kalau memang mau berburu buku Gramedia, lebih baik tunggu diskonan yang memang khusus Gramedia saja. Kalau acara tahunan, ada Kompas-Gramedia Fair yang lumayan banyak mendiskon buku-buku lama. Atau, kalau mau lebih puas, silakan tunggu acara yang biasanya diadakan di kompleks Gramedia Palmerah, seperti bazaar, atau yang baru-baru ini saya kunjungi juga, Pesta Novel Gramedia. Berbagai jenis novel dibandrol khusus dengan harga miring, pokoknya bener-bener bikin kalap deh!! Cuman, ya itu, acara di Palmerah biasanya ditutup jam 5 sore tiap hari, jadi pilihannya, selain menyelinap dari kantor, terpaksa datang di akhir pekan yang biasanya pengunjungnya lebih berjubel.

Selain di Indonesia, selama tinggal di Belanda saat menempuh S2 dulu, saya sempat bertandang juga ke pesta buku ala Belanda. Mereka menyebutnya boekenmarkt, atau boekenfestijn, dan serunya dari acara ini adalah tempatnya yang selalu berganti-ganti. Jadi, boekenfestijn hanya diadakan setiap beberapa bulan sekali, dan biasanya bergilir dari kota ke kota, tidak mungkin diselenggarakan di dua kota yang sama berturut-turut. Biasanya kita memantau lewat internet, boekenfestijn berikutnya kapan dan di mana..Seruuu banget, serasa jadi groupies yang lagi ngejer-ngejer jadwal tur idolanya ๐Ÿ™‚

Yang juga seru tentu saja saat hari H nya. Saya pernah pergi ke boekenfestijn di Utrecht bersama seorang teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Belanda. Dan alangkah kagetnya saya saat melihat dia menyeret-nyeret sebuah koper ketika kita ketemuan di depan hanggar besar yang jadi lokasi si pesta buku. Ngapain bawa koper?

Belum sempat saya bertanya, ehhh ternyata di sekeliling saya banyak banget orang seliweran pake koper. Ada juga yang bawa backpack gede dan traveling bag. Persiapannya heboh banget!! Dan memang, saya jadi nyesel sendiri karena terpaksa menenteng buku-buku paperback bahasa Inggris seharga 1 Euro-an dengan kantong plastik. Tau gitu kan, saya bawa koper juga!

Suasana salah satu boekenfestijn, kali ini disediakan trolley =)

Gambar diambil dari sini

Sayangnya, buku-buku yang dijual di boekenfestijn kebanyakan memang bahasa Belanda. Ada sih beberapa lorong yang dipenuhi tumpukan buku bahasa Inggris, tapi nggak sebanyak buku berbahasa Belanda. Oiya, yang asyik juga dari boekenfestijn adalah rak-rak buku yang disusun menyebar di seluruh ruangan. Jadi, nggak ada stand-stand khusus penerbit ini atau toko itu, semuanya disatukan saja di dalam ruangan super besar, biasanya yang dipakai adalah semacam hanggar, stadion olah raga atau aula gereja. Kebayang dong, wangi buku-buku beraneka ragam, diselingi oleh orang-orang yang seliweran dengan buku menumpuk di kopernya. It’s like a bookworm heaven.

Kadang penasaran juga sama pesta-pesta buku yang diselenggarakan di negara lainnya. Yang pasti sih tiap negara punya ciri khas masing-masing yang nggak kalah seru satu sama lain. Jadi, jadi, bener kan, kutubuku juga suka pesta-pora? ๐Ÿ™‚

Advertisements