Tags

, , , ,

Judul: The Righteous Men (Orang-orang Sadik)

Penulis: Sam Bourne

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 440 p

Beli di: Kompas Gramedia Fair Jakarta 2011 (IDR 15k, bargain!)

Will Monroe adalah seorang wartawan junior yang baru meniti kariernya di New York Times. Will menghabiskan masa kecilnya di Inggris bersama ibunya, namun kini ia bertekad ingin tinggal berdekatan dengan ayahnya di New York dan mengisi jeda masa kecilnya yang tanpa ayah. Will menikah dengan Beth, psikiater yang sangat dicintainya, dan kehidupan pernikahan mereka cukup berbahagia meski belum dikaruniai anak yang mereka dambakan.

Karier Will termasuk cemerlang, dan sepertinya kehidupan memang berpihak padanya. Hingga suatu hari, Will ditugaskan meliput pembunuhan misterius di kawasan kumuh Brooklyn, yang kemudian membawanya pada pmbunuhan berikutnya di pegunungan Montana yang sunyi. Belum habis rasa ingin tahu Will, ia sudah dihadapkan pada peristiwa yang mengguncang hidupnya: Beth diculik, dan sepertinya orang-orang yang berada di balik penculikan tersebut berhubungan erat dengan rangkaian pembunuhan yang sedang ditelusurinya.

Will berjuang mencari istrinya, sambil menyelidiki kisah di balik pembunuhan yang terus berlanjut di seluruh dunia, mulai dari India, Cape Town hingga London. Penyelidikan membawa Will ke kawasan permukiman Yahudi Ortodoks di Brooklyn, yang ternyata masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap kisah mistis kuno mengenai keberadaan orang-orang sadik yang berperan penting untuk kelangsungan hidup dunia.

Terjemahan judul buku ini, Orang-Orang Sadik, awalnya terasa sangat membingungkan. Apa artinya sadik? Kata itu terasa cukup asing di telingaku. Ternyata, menurut buku ini, kata sadik berasal dari bahasa Ibrani, tzaddik, yang artinya “orang benar”, atau dalam bahasa Inggris, righteous. Kata ini merupakan kunci dari misteri yang dihadapi Will, yang membawanya menelusuri kepercayaan kaum Yahudi yang masih dipegang teguh oleh kaum ortodoks.

Alur yang cepat, dengan pergantian bab tiap beberapa halaman, mengingatkanku pada gaya penulisan Dan Brown, yang selalu dipenuhi ketegangan, misteri di balik misteri, karakter yang tidak tertebak, serta banyak tersangka, meski akhirnya si penjahat selalu orang yang paling tidak terduga. Formula ini cukup berhasil diterapkan oleh Sam Bourne, terutama karena tema agama yang diusungnya tidak terlalu kontroversial seperti tema-tema favorit Dan Brown. Yahudi ortodoks bukanlah agama yang paling banyak dianut penghuni bumi, sehingga mengangkat topik kepercayaan mereka tidak dianggap sesensitif mempertanyakan Yesus dan ajaran-ajarannya, misalnya.

Namun aku cukup menyayangkan ending yang terlalu terburu-buru, terutama karena Bourne sebenarnya telah berhasil membangun ketegangan dengan apik sejak awal cerita. Karakter Will lumayan menyenangkan, begitu pula dengan partner in crime nya, TC, perempuan Yahudi yang cukup banyak membantu Will sepanjang cerita. Justru karakter Beth yang ditampilkan dengan tidak begitu simpatik, sehingga kadang timbul harapan agar Will beralih pada TC saja, hehehe!

Sam Bourne adalah pseudonym dari seorang jurnalis Inggris, Jonathan Freedland  yang telah menulis beberapa kisah fiksi thriller. Buku terakhirnya, Pantheon, baru terbit tahun ini.