Tags

, , , , ,

Judul: The Thousand Autumns of Jacob de Zoet

Penulis: David Mitchell

Penerbit: Random House (2010)

Halaman: 479 p

Pinjam dari: @pdini


Saat itu tahun 1799, dan VOC (Dutch East Indies Company) adalah satu-satunya channel Kekaisaran Jepang untuk berinteraksi dan bertransaksi dengan dunia luar, karena di periode Edo tersebut, Jepang menerapkan kebijakan isolasi yang melarang segala bentuk hubungan dengan dunia luar. Para karyawan dan petinggi VOC saat itu tinggal di sebuah pulau buatan, Dejima, yang terletak di pelabuhan Nagasaki.

Di pulau inilah segelintir orang Belanda tinggal, menunggu musim berdagang yang akan membawa kapal VOC dari Batavia, yang saat itu merupakan pusat perdagangan Belanda, untuk mengangkut sumber daya dari Jepang yang ditukar dengan rempah-rempah dan hasil alam Batavia. Selama penantian tersebut, orang-orang Belanda ini layaknya tawanan yang terpenjara di pulau mungil Dejima, tidak diijinkan masuk ke wilayah kekaisaran Jepang, namun tidak ada akses pula ke dunia luar, termasuk kembali ke kampung halamannya.

Di tengah suasana tidak biasa ini, hadirlah Jacob de Zoet, karyawan administrasi VOC yang baru datang dari Belanda. Jacob yang masih muda dan idealis bertekad akan kembali ke Belanda setelah 5 tahun melayani di Dejima, dengan membawa kekayaan yang akan dipakainya sebagai mas kawin untuk orang tua Anna, kekasihnya yang berasal dari keluarga berada.

Namun ternyata, situasi tidak semudah yang dibayangkan Jacob. Pergumulannya melawan korupsi yang merajalela, atasan-atasan yang ingin menjatuhkannya, politik kotor, bahkan pelarangan agama Kristen yang membuat Jacob si keponakan pendeta sembunyi-sembunyi membaca kitab Mazmur yang diselundupkannya, semua itu membawa Jacob ke masa-masa sulit. Hatinya yang bersih dan berusaha untuk selalu lurus dianggap ancaman bagi para atasan yang korup, namun di lain pihak, sekaligus menjadi modalnya untuk mendapatkan kepercayaan para pejabat Jepang.

Hidup Jacob juga diperkaya oleh persahabatannya dengan penerjemah muda dari Jepang, Ogawa; hubungan “frenemy” nya dengan dokter Belanda, Marinus, yang sudah menganggap Jepang sebagai tanah airnya sendiri; serta perkenalannya dengan puteri seorang dokter/samurai Jepang, Orito Aibagawa, yang cerdas, namun memiliki luka di wajahnya. Perkenalan ini juga yang akhirnya membuat Jacob jatuh cinta pada sang perempuan Jepang, yang merupakan hal terlarang di masa itu.

Rencana 5 tahun Jacob pun berubah total saat VOC terancam bangkrut, dan tidak ada kapal yang datang di musim dagang berikutnya, sehingga ia terancam stuck di Dejima, tanpa masa depan yang pasti. Sementara itu, Jacob juga menemukan fakta menyeramkan tentang salah satu penguasa Jepang yang nantinya akan mempengaruhi hidup Orito.

David Mitchell dengan jeli mengangkat kisah berlatar belakang sejarah yang belum banyak dikuak oleh penulis lainnya. Hubungan antara Barat dan Timur di abad ke-19 digambarkan dengan detail dan mengena, di mana Jepang sedang mengisolasi wilayahnya, sementara Belanda yang sebelumnya sempat menjadi salah satu negara Barat paling sukses dengan VOC nya, malah terancam bangkrut dan siap dikalahkan oleh Inggris.

Karakter Jacob digambarkan dengan cukup believable, sosoknya yang merupakan anomali dan simbol kebaikan saat itu, diperhalus dengan beberapa sentuhan yang lebih membumi: rasa putus asanya, sifat pengecut yang sempat naik ke permukaan (menyangkut cintanya pada Orito), ragu terhadap dirinya sendiri, sehingga bukannya tampil sebagai pahlawan super, tokoh Jacob justru begitu bersahaja, membuat kita bersimpati akibat kerapuhannya. Bahkan saat adegan pertempuran Belanda dan Inggris yang ingin masuk menguasai Dejima, Mitchell dengan cerdiknya bisa membuatku berpihak pada Belanda (yang adalah sang penjajah kita!!), saking masuknya karakter Jacob ke dalam hati pembaca (well, at least ke dalam hatiku, hahaha).

Yang juga menarik adalah secuplik bahasan tentang Batavia yang saat itu masih menjadi pusat perdagangan Belanda di belahan dunia timur. Sempat juga terpikir olehku, apakah korupsi mendarah daging VOC ini diwariskan kepada Indonesia? Dan apa jadinya ya, kalau Inggris dulu berhasil merebut kekuasaan Belanda hingga ke Batavia? Apakah karakter bangsa kita akan lebih seperti Malaysia dan Singapura?

Jacob de Zoet adalah sebuah kisah menyentuh tentang perjalanan hidup seorang manusia yang berusaha menemukan jati dirinya ditengah dunia yang serba asing, yang malah kelak akan dianggapnya sebagai tanah air. Meski beralur sedikit lambat, terutama di awal cerita, bertahanlah, dan bersiaplah untuk dibuai dengan detail yang kaya, puitis, dan memabukkan. Dan meninggalkanmu dengan perasaan sedikit hampa di akhir cerita.

Thank you Dini for lending me this book =)

Penampakan pulau Dejima di tahun 1820, gambar diambil dari Wikipedia