Tags

, , , ,

Judul: The Perks of Being Wallflower

Penulis: Stephen Chbosky

Penerbit: Pocket Books (1999)

Halaman: 232p

Pinjam dari @ndarow


Wallflower: a type of loner. seemingly shy folks who no one really knows. often some of the most interesting people if one actually talks to them. cute. (From Urban Dictionary)

Charlie baru saja masuk SMA, dan kenyataan itu membuatnya takut, karena ia bukanlah anak yang gampang bergaul, tidak populer, dan tidak punya banyak teman. Socially awkward lah. Kehidupannya di bangku SMA berubah membaik saat ia bertemu dengan kakak beradik nyentrik namun baik hati, Patrick (cowok gay yang naksir berat sama pemain football ganteng), dan Sam (cewek yang menjadi cinta pertama Charlie).

Dengan bantuan Patrick dan Sam, beserta kelompok teman-teman mereka yang tak kalah nyentrik, Charlie berusaha survive di tahun pertama SMA nya, mengatasi rasa insecure, tidak belong di manapun, dan kesendirian yang kadang terasa begitu menyakitkan. Kenapa ia harus berbeda dari kebanyakan teman-temannya? Kenapa ia tidak pernah merasa nyaman dengan dirinya sendiri? (Sounds familiar, eh?)

Dan memang ada hal-hal yang tidak dapat dihindari saat SMA (I remember how scary my high school days were): kencan pertama, party tanpa orang tua, prom, sapaan-sapaan di lorong sekolah, geng anak-anak keren dan gerombolan para geeks…ahhh…I’m glad I’m over it now =D

Di balik sifatnya yang selalu ingin menyenangkan orang lain, Charlie ternyata menyimpan masa lalu yang misterius, yang bahkan tidak akan terkuak sampai akhir cerita.

Perks of Being Wallflower adalah coming of age story yang (lagi-lagi) aku harap bisa aku baca 10 tahun (atau 15? hehe) yang lalu. Karena membaca buku ini tak lama setelah Getting The Girl – nya Markus Zusak, mau tidak mau aku jadi membandingkan karakter Charlie dengan Cameron Wolfe, yang sama-sama tenggelam dalam hiruk pikuk hidup masa remaja, dan tetap merasa sendiri. Bakat menulisnya pun mirip: bila Cameron mengungkapkan perasaannya lewat tulisan-tulisan singkat untuk dirinya sendiri, maka Charlie memilih untuk menulis surat kepada seseorang yang tidak dikenal (dan tidak mengenalnya), yang sampai akhir pun masih tetap misterius identitasnya (mungkinkah itu Sam? )

Beberapa karakter lain dibuat cukup menarik dan memiliki porsi tersendiri dalam perkembangan karakter Charlie: Bill, guru bahasa Inggris yang sadar akan kecerdasan Charlie dan membantunya menemukan jati diri melalui berbagai buku yang ia pinjamkan, Candace, kakak perempuan Charlie yang sangat cantik namun selalu memiliki masalah dengan laki-laki, dan tentu saja Patrick dan Sam, dengan geng mereka yang ajaib namun berperan penting dalam hidup Charlie.

Perks sangat-sangat aku rekomendasikan untuk anak-anak SMA di luar sana, yang masih mencari jati diri, yang masih mencari di mana mereka belong. Dan itulah menyenangkannya tumbuh dewasa di era buku-buku bagus seperti sekarang ini. You feel that you are not alone. That there will always be Charlie or Cameron out there. And one day, these too, shall pass =)

Perks of Being Wallflower sudah diangkat ke layar lebar dan akan rilis bulan September ini, dengan Logan Lerman sebagai Charlie, Emma Watson sebagai Sam, Nina Dobrev sebagai Candace, dan Paul Rudd sebagai Bill. A must see movie for sure!

 

Advertisements