Tags

, , ,

Judul: House Rules

Penulis: Jodi Picoult

Penerbit: Atria International (2010)

Halaman: 657 p

Beli di: Times Bookstore Plaza Semanggi (IDR 85k)

Jacob Hunt adalah seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun yang memiliki Asperger’s syndrome dan terobsesi dengan ilmu forensik kriminal. Jacob bahkan senang membantu polisi memecahkan kasus dan kerap muncul di TKP berkat pesawat radio polisi yang dimilikinya, meski kehadirannya tidak disukai oleh para polisi. Namun suatu hari, keadaan berbalik saat Jacob malah dituduh terlibat dalam kasus menghilangnya tutor pribadinya, Jessica, karena bukti-bukti di TKP mengarah padanya. Kejadian ini membuat Emma, ibu Jacob, sangat frustrasi, karena Jacob berada dalam sorotan masyarakat, sementara selama ini Emma (yang adalah single mother) selalu berusaha agar Jacob diterima dan dianggap normal oleh masyarakat.

Sementara itu, kita juga diperkenalkan dengan karakter orang-orang di sekitar Jacob: Theo, adiknya yang selalu merasa disisihkan dalam keluarga dan memiliki rahasia besar yang tidak dapat diceritakan pada siapapun; Rich, detektif kepolisian yang kadang berempati pada Jacob namun terpaksa melakukan tugasnya; serta Oliver, pengacara culun yang disewa oleh Emma dan akhirnya jadi bagian dari keluarga ajaib ini.

Buku-buku Jodi Picoult selalu memiliki premis dan tema yang gemilang, namun sayangnya tidak dibarengi dengan penulisan yang memikat. Dalam House Rules, Picoult menggunakan sudut pandang orang pertama yang bergantian (salah satu ciri khasnya), namun entah kenapa pengenalan terhadap karakter-karakter ini terasa kurang believable dan malah berkesan datar. Penggambaran Jacob dengan Asperger’s nya misalnya, lebih seperti gabungan research yang telah dilakukan Picoult dan digelontorkan begitu saja, ketimbang menggambarkan karakter seorang remaja sungguhan yang memiliki sindrom Asperger. Bahkan karakter Caitlin dalam buku Mockingbird yang baru-baru ini kubaca, terasa lebih believable dan bisa mengundang simpati.

Picoult memang sangat well research, tapi terlihat ke-kagok-annya dalam menyulam hasil penelitian tersebut ke dalam jalinan plot dan dialog yang menarik. Ia bermain-main dengan fakta bahwa “Orang-orang dengan Asperger’s selalu jujur dan menanggapi segala sesuatu secara literal”, tapi anehnya malah membuat kontradiksi di akhir cerita dengan pernyataannya ini. Ia juga main-main di area sensitif seperti menyinggung imunisasi sebagai salah satu sebab pemicu autisme pada anak, satu hal yang masih dipertanyakan kebenarannya.

Satu-satunya karakter yang terasa relate denganku adalah Theo, si adik yang tersingkirkan. Di sini Picoult mampu menampilkan emosi yang jujur, ekspresi yang raw, sesuatu yang hilang saat ia menggambarkan perasaan Emma (yang harusnya bisa digambarkan dengan lebih real). Bab-bab dengan sudut pandang Theo terasa seperti angin yang menyegarkan di tengah kekeringan buku ini. Plot di pertengahan cerita juga semakin membosankan dan bertele-tele, dengan pengulangan yang tidak perlu mengenai karakteristik sindrom Asperger. Bahkan akhir cerita, seperti siapa yang bertanggung jawab atas musibah yang menimpa Jessica, sudah bisa tertebak sejak pertengahan buku. Gambaran pengadilan yang dialami Jacob juga terasa tidak believable, seperti membaca karya KW2 Grisham saja.

Sometimes, Picoult nailed her works, seperti dalam buku Nineteen Minutes yang fenomenal. Namun seringkali ia terjebak dalam kesalahan lamanya: great premises, poor execution. Sayang memang.

But I haven’t given up on her books, yet. So I welcome any suggestions of her best works!