Judul: Motherless Brooklyn

Penulis: Jonathan Lethem

Penerbit: Serambi (2007)

Halaman: 576 p

Beli di: Pesta Buku Jakarta (IDR 20k, bargain price!)


Oke. Mereview buku ini sepertinya bakal susah-susah gampang deh. Soalnya I’m totally in between! Antara suka dan enggak.

Jadi, ceritanya sendiri berkisar pada kehidupan Lionel Essrog, anak yatim-piatu yang tinggal di Panti Asuhan St. Vincent di Brooklyn, dan dipungut bersama tiga orang anak lainnya oleh salah satu gangster di Brooklyn, Frank Minna. Keempat anak ini selain dipekerjakan oleh Minna, juga akhirnya dididik untuk menjadi “anak buah” nya, dan akhirnya diminta untuk menjadi staff ketika Minna mendirikan perusahaan detektif berkedok penyewaan mobil yang mencurigakan.

Yang seru dari buku ini sebenarnya adalah tokoh Lionel yang diceritakan menderita Sindrom Tourette, yang tidak bisa mengontrol ucapannya, selalu ingin berbicara meledak-ledak, menyentuh bahu orang, menghitung angka tertentu, dan melakukan tindakan-tindakan aneh serupa gejala obsesif kompulsif. Lionel dikenal sebagai Freakshow, orang aneh yang dianggap sedikit gila bahkan oleh teman-temannya sesama anak buah Frank: Tony sang pemimpin, Danny yang selalu stylish, serta Gilbert si besar yang pendiam.

Suatu hari, dalam salah satu kasus mereka, Frank Minna tewas terbunuh. Para anak buah saling mencurigai, belum lagi ada polisi bagian pembunuhan yang mengintai mereka, serta beberapa klien misterius yang ternyata adalah bos mafia. Semuanya membuat Lionel bertekad hendak menemukan siapa pembunuh Frank Minna, sosok yang amat disayanginya. Penyelidikannya membawanya ke berbagai tempat, termasuk perkumpulan penganut aliran zen di New York dan resort retreat mewah di Maine. Siapa sebenarnya dalang di balik pembunuhan Frank?

Buku ini sebenarnya menarik karena diceritakan dari sudut pandang Lionel dengan otaknya yang kacau dan ocehan gila yang berhamburan dari mulutnya di saat-saat yang tidak tepat. Karakternya yang bikin pusing sekaligus mengundang simpati memang sangat memorable. Tapi memang benar sih, ada beberapa buku yang sebaiknya dibiarkan tanpa terjemahan, karena kata-kata di dalamnya tidak bisa digantikan oleh bahasa apapun selain bahasa aslinya (dalam hal ini, bahasa Inggris). Dan ocehan Lionel adalah salah satunya.

Di awal buku, aku sempet sedikit ilfil karena terjemahan umpatan Lionel yang dibuat menjadi “Dancuk!” (Sepertinya sih diambil dari kata “F*ck”). Selidik punya selidik memang Dancuk adalah versi umpatan yang populer di daerah Jawa Timur. Tapi untuk orang-orang yang bukan berasal dari sana, pemilihan kata ini cukup mengganggu. Kenapa nggak mengambil kata yang lebih umum seperti “Brengsek” atau “Sialan” saja ya?

Ada beberapa pilihan kata lainnya yang juga kurang asyik menurutku, seperti: bocah gemblung, kentir, atau gendeng. Semuanya terlalu berbau kedaerahan dan sebenarnya bisa diganti dengan kata-kata seperti: bocah konyol (untuk gemblung), atau sinting (untuk gendeng). Kalau memang alasan dipilihnya kata-kata dari bahasa daerah adalah untuk menghaluskan keseluruhan isi buku, rasanya penerjemah kurang konsisten, karena di beberapa bagian malah terdapat beberapa kata yang kelewat kasar, misalnya k*nt*l dan ng*nt*t. Nah, aneh kan? Kenapa nggak menggantinya dengan bahasa Indonesia baku sekalian? Mungkin, dalam hal ini si penerjemah tidak bisa disalahkan juga, karena tugasnya memang kelewat berat. Yang harusnya lebih jeli adalah sang penerbit yang memutuskan untuk menerjemahkan buku ini.

Anyway, mereview buku ini memang sedikit susah, seperti yang kutulis di awal posting. Ceritanya sendiri cukup oke, tapi rasanya lebih baik kalau dibaca dalam bahasa Inggris saja. Lumayan kan, jadi bisa belajar kata-kata umpatan baru? =D

Motherless Brooklyn memenangkan National Book Critics Circle Award tahun 1999. Rencananya, buku ini akan diadaptasi ke dalam film dan disutradarai (sekaligus dibintangi) oleh the talented Edward Norton. Can hardly wait!!!