Tags

, , , , , ,

Judul: Mockingjay

Penulis: Suzanne Collins

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)

Halaman:432 p

Beli di: Gramedia Mal Taman Anggrek (IDR 68k)

In my heart (and probably almost everyone’s heart), there is a hole the size of Harry Potter. Siapapun yang mengikuti serial masterpiece-nya JK Rowling ini, pasti merasa kehilangan setelah menutup lembar terakhir buku ketujuh. Iya kan? Dibaca berulang-ulang, lalu menonton filmnya…Dan tetap saja, reality bites. It’s the end of a great era.

Lalu, saya, seperti juga para hardcore fans lainnya, mulai mencari-cari pengganti Harry. Banyak buku fantasi bertebaran di luar sana, sebagian besar punya tone yang mirip dengan Harry Potter. Tapi, ya itu..tidak ada yang meninggalkan kesan mendalam.

Sampai suatu hari, saya berkenalan dengan Hunger Games. And finally I found my solace. Meski tidak sefenomenal Harry Potter (oke, mungkin memang harus diakui kalau tidak akan pernah ada yang bisa mengisi lubang itu sepenuhnya), Hunger Games menawarkan hampir semua formula yang tepat dari sebuah serial fantasi. Plot yang tak terduga, karakter yang likable, dan pace yang cepat. Saya pun jatuh cinta.

Setelah membaca buku pertama dan kedua, akhirnya penantian yang panjang terbayar dengan hadirnya Mockingjay (yang versi terjemahannya sedikit telat), jilid pamungkas serial ini. Di akhir buku kedua, kita ditinggalkan di tengah-tengah konspirasi revolusi yang merupakan kejutan bagi Katniss Everdeen si tokoh utama.

Dan di buku ketiga inilah revolusi akhirnya pecah. Distrik ke-13 unjuk gigi, dibantu oleh beberapa distrik lain termasuk distrik 12 yang sudah dibumihanguskan oleh Capitol. Perang berkecamuk, dan Katniss ingin terjun langsung ke dalamnya. Namun situasi lebih rumit dari yang ia harapkan. Plutarch dan Coin, yang mengepalai pemberontakan dari Distrik 13, ingin menjadikan Katniss lebih sebagai simbol revolusi – sang Mockingjay yang akan menyulut semangat setiap penduduk Panem untuk berperang. Padahal Katniss benar-benar gatal untuk ikut bertempur, apalagi setelah apa yang dia alami dengan Capitol di buku-buku sebelumnya. Ditambah dengan Peeta yang ditawan di Capitol (dan mengalami perlakuan amat buruk di sana), Katniss memutuskan untuk melakukan peperangannya sendiri. Dengan sasaran langsung Presiden Snow.

Mockingjay belum memiliki level ketegangan setinggi Hunger Games, tapi juga tidak sedatar Catching Fire. Pertempurannya oke, sedikit sadis di beberapa adegan, tapi masih bisa ditolerir. Sebagai buku terakhir, Mockingjay ingin membawa pembaca bertanya-tanya, bagaimana akhir semua ini? Apakah revolusi adalah jalan terbaik? Dan apakah Katniss memperoleh happy ending-nya? Jawabannya, meski tidak semua memuaskan, namun terasa pas. Ada tragedi yang terlalu menyedihkan, karakter yang terpaksa dikorbankan, tapi secara keseluruhan, Mockingjay menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan hubungan Katniss-Gale-Peeta dibahas sesuai porsinya di sini, untungnya tidak membuat Hunger Games terlalu menye-menye. Ditambah lagi, terjemahan yang mengalir membuat saya tidak menyesal mengikuti serial ini dalam versi terjemahannya.

Favorit saya adalah kalimat terakhir sebelum bab epilog. Nyata, atau tidak nyata? =)

Mungkin, era baru buku fantasi akhirnya sudah dimulai.


Advertisements