Tags

, , , ,

Judul: Special Topics in Calamity Physics

Penulis: Marisha Pessl

Penerbit: Penguin Books (2006)

Halaman:514 p

Got it from Bookmooch

Ada buku-buku yang karakternya begitu memorable. Entah karena mudah untuk disukai, atau karena kuat, atau simply karena menyebalkan. Karakter seperti inilah yang membuat sebuah buku begitu berharga, sehingga rasanya kita tidak ingin mengakhiri halaman-halaman yang ada di dalamnya. Bahkan, saat cerita berakhir, ingin rasanya menarik keluar karakter tersebut sehingga kita bisa berteman dengannya di dunia nyata.

Inilah yang aku alami dengan Blue van Meer, saat membaca buku Special Topics in Calamity Physics. Blue adalah anak perempuan jenius, sangat pintar sehingga kadang fakta-fakta yang dia kemukakan membuat kening berkerut-kerut, namun di saat bersamaan juga sangat naive dan polos, sehingga tidak ada alasan untuk membencinya karena kejeniusannya itu.

Blue adalah anak dari seorang profesor dengan ide-ide yang revolusioner, tak heran bila Blue sangat mengagumi ayahnya, terlebih karena ibunya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Berdua ayahnya, Blue berkelana mengelilingi benua Amerika Utara, berpindah-pindah sekolah sementara ayahnya mengajar di berbagai universitas kecil di pelosok negeri.

Hingga tiba tahun seniornya di SMA, ayahnya mengajak Blue untuk menetap di Stockton, sehingga Blue dapat menyelesaikan tahun terakhirnya di SMA sebelum melanjutkan kuliah ke Harvard (yup, she’s that smart!). Di sekolah inilah Blue bertemu dengan karakter-karakter luar biasa yang akan mengubah hidupnya. Mereka tergabung dalam satu kelompok unik yang dipimpin oleh seorang guru cantik di sekolahnya, Hannah Schneider. Ada Jade yang cantik dan nekat, Charles yang tampan dan tergila-gila dengan Hannah, Nigel si gay yang cerewet, Milton yang pendiam dan berbadan besar, dan Leulah yang selalu lembut. Blue, dari hanya menjadi pengamat, akhirnya sedikit demi sedikit masuk ke kelompok tersebut. Dan hidupnya yang biasa tak berteman, kini berubah 180 derajat.

Dunia Blue semakin jungkir balik ketika terjadi sebuah kematian mendadak yang melibatkan Hannah. Belum cukup drama yang terjadi, Blue menemukan Hannah meninggal dalam kondisi misterius. Akhirnya ia bertekad untuk menyelidiki segala rahasia dan kejadian aneh tersebut, termasuk penyebab meninggalnya Hannah, yang membawanya pada rahasia masa lalu, pencarian jati diri, dan bahkan penelusuran terhadap rahasia keluarganya sendiri.

Novel pertama Marisha Pessl ini, simply said, disajikan dengan cerdas. Formatnya yang unik menyajikan cerita layaknya kurikulum kuliah, diselipi referensi textbook dan footnotes di sana-sini. Memang ada beberapa bagian yang terlalu detail, sarat akan fakta sehingga terkadang sedikit membosankan, bahkan membingungkan bila kita membacanya tanpa konsentrasi penuh. Namun secara keseluruhan, buku ini masuk kategori yang lengkap secara karakterisasi, plot dan alur cerita (termasuk penyelidikan Blue yang dirangkai dari beberapa petunjuk kecil menjadi suatu puzzle yang utuh), bahkan ironi yang menguasai ending buku.

Mengenai endingnya sendiri, menurutku sangat-sangat heartbreaking (I just want Blue to have a happy ending!), tapi epilognya yang brilliant dan dibuat menyerupai ujian akhir, tidak boleh dilewatkan, meski meninggalkan kita sebagai pembaca untuk berimajinasi dengan bebas. If you are a book lover and you love to be challenged, then this one is for you =)