Tags

, , ,

Judul: The Naked Traveler 3

Penulis: Trinity

Penerbit: B first (2011)

Halaman:324 p

Beli di: Pesta Buku Jakarta 2011 (IDR 54k, disc 20%)

Sudah sejak lama aku mengikuti sepak terjang Trinity, dari mulai tulisannya masih berupa blog saja sampai satu demi satu bukunya diterbitkan. Dan betapa banyaknya kemajuan yang diperoleh Trinity pada buku The Naked Traveler (alias TNT) ketiga ini, dibandingkan dengan dua buku sebelumnya.

Yang paling terasa di buku ketiga ini adalah variasi cerita yang semakin bertambah. Tidak melulu tentang kekonyolan dan serunya backpacking ala Trinity, tapi menyinggung hal-hal yang lebih mendalam seperti kecintaannya pada Indonesia, tipsnya untuk research sebelum  traveling, atau pengalamannya dengan budaya yang berbeda-beda.

Kalau dulu Trinity kesannya sangat beraliran hardcore backpacker, di buku ini kisah-kisah perjalanannya terasa lebih berbeda. Mungkin karena tuntutan profesi yang kini adalah penulis (serta editor in chief di sebuah majalah travel), banyak kisah travelingnya yang berada di luar garis backpacking, namun tetap terasa menggelitik dan menarik, seperti misalnya ketika ia ikut syuting di Pulau Sumba bersama kru program Metro TV.

Pembagian bab di buku ini pun dikemas lebih teratur dan menarik, sehingga enak untuk dibaca. Yang juga menyenangkan adalah kisah-kisah lucu yang diceritakan dengan lebih efortless dibanding di dua buku sebelumnya. Kalau dua buku sebelumnya banyak joke dan kejadian lucu yang terkesan agak garing, di buku ini Trinity nampak lebih bijaksana dalam meramu pengalaman lucunya. Mungkin karena jam terbang yang makin tinggi, baik sebagai traveler ataupun writer, membuat Trinity lebih santai dalam mengolah kisahnya menjadi bacaan yang lucu banget, tanpa harus memasukkan komentar atau joke yang terkesan maksa. Jika buku pertamanya fresh tapi masih terkesan kurang matang, dan buku kedua terasa begitu datar, maka buku ketiga adalah formulasi yang terasa pas dan enak.

Aku sendiri ngakak berat sampai nangis-nangis waktu baca cerita Poo Pants Man, tentang teman satu tur Trinity saat bertualang di Darwin, yang adalah bapak-bapak tua, dan membuat seisi bis stress berat karena ternyata sedang terserang diare. Lalu, ada juga cerita Cang-Cing-Cung yang super kocak, tentang sulitnya berkomunikasi saat Trinity melancong ke Cina.

Satu lagi yang patut dihargai adalah tulisan-tulisan tentang Indonesia, dan betapa sebenarnya negara kita ini sangat berpotensi dalam hal pariwisata. Mungkin memang sosok seperti Trinity lah yang dibutuhkan negara ini untuk bisa memajukan pariwisatanya!