Tags

, , ,

Judul: A Red Herring Without Mustard

Penulis: Alan Bradley

Penerbit: Bantam Books Mass Market Export Edition (2011)

Halaman:399 p

Beli di: Periplus Soekarno Hatta Airport (IDR 88k)

Flavia de Luce is back again! Masih sama sok tahunya, adorablenya, dan keterlaluan pintarnya, Flavia kembali menghadapi misteri di desa tempat tinggalnya, Bishop’s Lacey. Setelah minta diramal seorang perempuan gypsy tua dan akhirnya malah membakar tendanya dengan tidak sengaja, Flavia mencoba menebus dosanya dengan mengajak sang gypsy bermalam di lapangan dekat rumahnya, Buckshaw. Siapa sangka, tak lama kemudian Flavia malah menemukan perempuan gypsy itu dalam kondisi sekarat setelah diserang oleh seseorang yang misterius?

Belum lagi Flavia bisa memecahkan misteri tersebut, dia sudah menemukan sesosok mayat lain di air mancur kuno yang berada di halaman Buckshaw. Kasus ini semakin rumit dengan kehadiran Porcelain, cucu si wanita gypsy yang misterius, Inspektur Hewitt yang seolah menghambat penyelidikan Flavia, ayahnya yang tampak makin depresi akibat kebangkrutan keluarga yang ada di depan mata, serta tentu saja kedua kakaknya, Feely dan Daffy, yang lebih kejam dari kakak tiri Cinderella!

Alan Bradley termasuk seorang penulis produktif yang tidak gampang kehilangan ide-ide segar. Meski cerita misteri di buku ketiga ini tidak se-crunchy buku pertama, atau se-creepy buku kedua, namun unsur “Flavia”-nya masih kental terasa. Kali ini Bradley lebih fokus pada pengembangan karakter utama di buku, seperti kesedihan Flavia mengingat-ingat ibunya yang sudah tiada, juga Kolonel de Luce yang semakin menarik diri karena kondisi keuangan keluarga yang semakin runyam. Mau tidak mau aku merasa lebih dekat dengan keluarga ini. Sepertinya di setiap buku, Bradley akan menyingkap sedikit demi sedikit kekelaman yang menyelimuti keluarga de Luce, termasuk sosok Harriet, ibu Flavia, yang merupakan tonggak keluarga ini.

Tidak sabar rasanya masuk kembali ke dalam kehidupan Flavia dalam buku selanjutnya, I am Half-Sick of Shadow, yang rencananya akan terbit akhir tahun ini, dan untuk pertama kalinya menggunakan setting Natal. Yeay!

ps: satu hal lagi yang membuat serial ini sangat collectible adalah judul-judulnya yang unik, selalu mengandung arti tertentu yang biasanya berhubungan dengan jaman dahulu (seperti diambil dari sajak, lagu anak, dll); dan tentu saja covernya yang warna maupun ilustrasinya selalu eye-catching =)