Tags

, , , , ,

Judul: Kuantar ke Gerbang

Penulis: Ramadhan KH

Penerbit: Bentang (2011)

Halaman:431p

Beli di: Bukukita.com (IDR 58,650)

Buku dengan genre roman bukanlah favoritku, dan sepertinya roman sejarah juga tidak termasuk dalam daftar wishlistku. Ketika BBI memutuskan untuk membaca buku-buku bertema Indonesia di bulan Agustus ini, sebenarnya aku tidak memiliki preferensi tertentu. Pilihan dijatuhkan ke buku ini karena sepertinya tidak terlalu membosankan dari sinopsis yang kubaca.

Ternyata, pilihanku tidak salah. Ramadhan KH berhasil meramu suatu kisah sejarah berbumbu roman, menjadi suatu novel seru yang habis kubaca hanya dalam beberapa hari saja. Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana si penulis bisa mengambil sudut pandang seorang perempuan biasa dalam menggambarkan sosok manusia luar biasa pahlawan bangsa kita, Bung Karno.

Ibu Inggit Garnasih hanyalah seorang perempuan biasa. Hidupnya berubah tatkala Bung Karno, yang saat itu masih dikenal dengan nama Kusno, menumpang di rumahnya di Bandung saat kuliah di ITB. Sebenarnya ketika itu Ibu Inggit sudah memiliki suami, Pak Sanusi, yang juga seorang aktivis organisasi Serikat Islam. Namun, chemistrynya dengan Kusno membuat Inggit dan Sanusi akhirnya berpisah.

Sejak itu, dimulailah dunia Inggit yang penuh dengan tantangan. Mensupport suaminya agar lulus kuliah, sekaligus mendampinginya pidato ke mana-mana, karena saat itu Kusno mulai aktif di dunia politik dan dikenal sebagai singa podium. Tidak hanya support secara mental, Inggit pun bahkan rela banting tulang untuk mencari rejeki bagi keluarga kecil mereka.

Hari demi hari berlalu, dan seiring perjalanan keluarga mereka, terungkaplah pula peristiwa-peristiwa sejarah yang dituturkan dengan begitu polos dari mulut Inggit. Penangkapan Soekarno, dimasukkan ke penjara, pembelaannya yang brilian lewat “Indonesia Menggugat”, hingga pengasingannya ke Pulau Ende dan Bengkulu. Juga bermunculan tokoh-tokoh lain yang nantinya akan kita kenal sebagai pahlawan bangsa, seperti Sjahrir, dr. Tjipto, hingga Bung Hatta. Lewat Inggit juga kita diajak untuk melihat hal-hal kecil dan sifat-sifat Soekarno yang selama ini mungkin belum terungkap. Bagaimana Bung Karno yang tampak gagah di podium, ternyata masih bisa bersifat lembut dan membantu merangkaikan bunga untuk disematkan di sanggul Inggit. Inggit yang memang berusia lebih tua dari Soekarno pun tampak begitu mengayomi suaminya. Sungguh perpaduan yang menarik.

Bagian paling menyentuh adalah ketika Inggit menggambarkan saat-saat akhir pernikahannya dengan Soekarno. Bagaimana pertemuan Soekarno dengan sosok perempuan yang kelak menjadi ibu dari anak-anaknya, dan bagaimana hal itu sangat melukai hati Inggit. Gara-gara buku ini juga aku jadi sangat tertarik dengan sosok Soekarno. Bukan hanya kepahlawanannnya, tapi juga “kelemahannya” dalam hal wanita. Ternyata, tercatat 8 kali Soekarno telah menikah selama hidupnya (!). Beberapa istri, termasuk Ibu Inggit, diceraikannya secara baik-baik. Namun ada juga yang statusnya masih tidak jelas hingga akhir hayatnya.

Behind every great man, there is a greater woman. Itulah satu hal yang dapat aku petik dari kisah antara Inggit Garnasih dengan Soekarno. Dan sungguh benar tepat judul buku ini, Kuantar ke Gerbang, karena Ibu Inggitlah yang mengantar Soekarno ke gerbang cita-citanya yang terbesar, memerdekakan Indonesia yang sangat dicintainya.

I wish history could be as exciting as this when I was in school! =)