Tags

, , ,

Judul: Madre

Penulis: Dewi Lestari/ Dee

Penerbit: Bentang (2011)

Halaman:160 p

Beli di: BukaBuku.com (IDR 47k, disc. 15%)

Membaca karya Dewi Lestari alias Dee selalu merupakan dilema besar untukku. Aku jatuh cinta pada karya Dee setelah membaca Supernova jilid kedua, Akar, di mana Dee menuliskan tokoh Bodhi dengan begitu nyata, begitu humanis. Kekaguman itu berlanjut di buku selanjutnya, Petir, saat Dee menciptakan tokoh Elektra yang sangat lovable.

Namun buku-buku selanjutnya agak membuatku kecewa. Filosofi Kopi masih lumayan, tapi Recto Verso terkesan menjadi buku yang penuh “curhat colongan”, sementara Perahu Kertas terlalu ABG untuk ukuran Dee. Makanya begitu tahu Dee akan menerbitkan kumpulan cerita baru berjudul Madre, perasaanku terbelah dua. Setengahnya penasaran dan tidak sabar, setengahnya lagi sedikit skeptis karena takut kecewa.

Ternyata firasatku benar. Dari 13 cerita pendek dan puisi dalam buku ini, hanya dua yang meninggalkan kesan baik. Salah satunya adalah cerita utamanya, Madre. Berkisah tentang seorang laki-laki takut komitmen yang tiba-tiba mendapatkan warisan dari seorang kerabat tak dikenal. Warisannya pun aneh, berupa adonan biang untuk membuat roti yang sudah berumur puluhan tahun, dan diberi nama Madre. Lelaki ini akhirnya seperti mendapatkan dunia baru, termasuk peninggalan berupa toko roti tua bernama Tan de Bakker, bersama para pekerjanya yang sudah jompo. Belum hilang keterkejutannya, datang seorang gadis cantik, pengusaha roti sukses yang ingin membeli Madre dengan harga amat mahal. Apakah akhirnya si lelaki rela melepaskan Madre dan kembali ke dunianya yang dulu? Atau bertahan dengan komitmen di kehidupan baru yang begitu menakutkan?

Madre mengingatkanku akan siapa Dee yang aku kagumi. Cerita sederhana namun penuh detail pengetahuan baru, dengan karakter-karakter yang digambarkan begitu manusiawi, tidak flawless, tapi tetap lovable. Belum lagi detail tentang pembuatan roti yang begitu menggoda. Hal itu kembali muncul di salah satu cerita lain dalam buku ini, yang berjudul Menunggu Layang-Layang. Bercerita tentang persahabatan dua orang yang sangat berbeda sifat: Christian yang kaku dan metodis, serta Starla yang tidak pernah punya planning untuk masa depannya. Cerita yang sederhana dan agak ketebak ini diselamatkan oleh dialog-dialog yang realistis dan sekali lagi, karakter yang serasa sudah kita kenal sejak lama.

Sisa buku Madre adalah beberapa cerita pendek dan puisi yang kurang nendang (at least untuk ukuran seorang Dee). Pencarian makna Tuhan, pertanyaan tentang kehidupan, kematian, sentuhan dunia kosmik dan takdir. Entah mungkin aku yang sudah bosan dengan tema-tema ini, atau memang gaya penulisan Dee yang entah kenapa nggak terasa sreg, yang pasti I don’t think the stories are my cup of tea at all.

Well…maybe next time, Dee? Sepertinya tahun depan Supernova akan kembali bangkit, jadi…let’s cross our fingers!