Tags

, , , , , ,

Judul: The Day of The Jackal

Penulis: Frederick Forsyth

Penerbit: Serambi (2011)

Halaman:609 p

Beli di: Mbak Truly (IDR 41,5k)

Novel ini bersetting di Perancis tahun 1963. Saat itu Perancis dipimpin oleh presiden Charles DeGaulle, seorang jenderal yang memiliki track record panjang di dunia militer. Seperti layaknya setiap pemimpin besar, tidak semua setuju dengan keputusan yang diambil oleh sang Jenderal. Termasuk sebuah organisasi pemberontak yang dikenal sebagai OAS, yang sangat menentang kebijakan DeGaulle untuk melepaskan Aljazair dari Perancis.

Beberapa percobaan pembunuhan telah dilakukan oleh komplotan ini, namun selalu saja gagal, entah akibat ketatnya penjagaan sang presiden, informan-infroman andal yang ditempatkan dalam organisasi tersebut, atau sekadar masalah keberuntungan belaka. Yang pasti, OAS mulai gerah, dan sebagian kecil petingginya memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri. Marc Rodin, dibantu dua orang anggota OAS, Rene Montclair dan Andre Casson, mengambil langkah drastis dengan menyewa seorang pembunuh bayaran profesional. Setelah menimbang-nimbang, pilihan jatuh kepada seorang laki-laki Inggris berambut pirang yang misterius, dengan nama samaran Jackal (yang diterjemahkan secara agak janggal menjadi “jakal”).

Mulailah Frederick Forsyth membawa kita menyusuri lika-liku persiapan sang Jackal untuk melaksanakan tugasnya. Dari mulai memesan senjata, memalsukan paspor, mempersiapkan penyamaran, sampai survey tempat, semua diceritakan dengan detail. Alur cerita semakin seru ketika pemerintah Perancis berhasil mencium rencana busuk OAS, dan menugaskan detektif terbaik mereka dari kepolisian, Komisaris Claude Lebbel, untuk menyelidiki siapakah sebenarnya sang Jackal.

Adu cerdik antara Jackal dan Lebbel lah yang membuat buku ini sangat menarik untuk disimak. Apalagi ditingkahi dengan intrik politik dalam pemerintahan Perancis, karakter DeGaulle tidak mau terlihat lemah di hadapan publik, sampai kebocoran informasi ke pihak musuh.

Awalnya buku ini terasa amat lambat, sampai aku agak bingung apa yang menyebabkannya bisa bertengger sebagai salah satu novel kriminal terbaik sepanjang masa. Apalagi saat Forsyth dengan bertele-telenya menceritakan sejarah perpolitikan Perancis sampai ke unsur-unsur organisasi pemerintahannya, dengan istilah yang asing di telinga. Tapi untungnya, alur berubah menjadi cepat ketika terjadi kejar-kejaran antara Jackal dan Lebbel.

Forsyth sendiri termasuk penulis yang sangat detail, terbukti dari langkah demi langkah pemalsuan paspor sampai perakitan senjata yang dituturkan dengan sangat terperinci. Tak heran, novel ini dikabarkan menjadi inspirasi terjadinya peristiwa penembakan PM Israel Yitzhak Rabin. Kalau dibandingkan dengan novel konspirasi kriminal sejenis, seperti karya-karya Tom Clancy, Forsyth masih lebih serius, meski kalah dari sisi adrenalin, namun intrik yang disajikan terasa lebih nyata dibandingkan kisah Clancy yang seringkali terkesan pretensius.

Oya, satu hal lagi yang cukup menyesatkanku. Tadinya, sebelum membaca novel ini, aku begitu yakin kalau isi novel inilah yang dijadikan acuan pembuatan film The Jackal yang dibintangi oleh Bruce Willis akhir dekade 90-an lalu. Ternyata ini salah besar, karena film tersebut berbeda 100% jalan ceritanya dari buku ini. Persamaan keduanya hanyalah pemakaian istilah Jackal untuk menggambarkan sang pembunuh bayaran. Jackal sendiri adalah sejenis anjing liar yang memang merupakan salah satu hewan pemburu andal. Cocok lah, untuk menggambarkan sosok pembunuh bayaran, terutama si pirang misterius dari Inggris =)

PS: buku ini adalah proyek baca bareng BBI untuk bulan Juli. Diselesaikan dalam waktu yang sangat mepet =)