Tags

, ,

Beberapa waktu lalu, aku beruntung mendapat kesempatan dikirim ke Amerika Serikat oleh kantor, untuk menghadiri dan berbicara di sebuah konferensi di Washington, D.C. Sebelum menuju Washington, aku juga sempat berkunjung ke dua kota, Los Angeles dan Chicago, untuk meeting dengan orang-orang di Konsulat Jenderal RI di sana.

Jalan-jalan ke negara orang dalam rangka bekerja tentu beda rasanya dengan murni tujuan berwisata. Feelnya beda, excitementnya juga jelas beda. Tapi karena pada dasarnya aku suka traveling, aku berusaha untuk menikmati saja perjalanan ini.

Setiap kali traveling, terutama ke negara yang berbahasa Inggris, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke toko buku. There’s no place more like home than a place that smells of fresh and old pages of books. I love wandering around a bookstore, touching the soft cover of a book, smelling the most wonderful smell in the world. Biasanya, kunjungan ke toko buku sudah manjur untuk mengobati rasa homesick yang kadang suka menyeruak. Tak terkecuali perjalanan ke Amerika kemarin, salah satu yang paling membuat bersemangat adalah prospek untuk mengunjungi toko buku dan berburu buku sampai bokek =D

Bye-bye Bookstore!

Sayang sekali, dunia memang sudah berubah, termasuk dunia perbukuan di Amerika. Teknologi yang merambah negara ini sangat terasa sampai ke jumlah orang yang menenteng gadget e-book reader di mana-mana. Bahkan pemandangan di airport pun, yang biasanya sarat dengan orang-orang yang membawa buku atau duduk membaca di pojokan, kini digantikan oleh “pameran” gadget berbagai bentuk. Yang paling populer adalah iPad dan Kindle keluaran amazon. Tapi, banyak juga yang membawa e-book reader lain seperti Nook atau Sony. Melihat begitu banyaknya orang yang beralih ke e-book, tidak heran kalau Borders yang merupakan salah satu chain bookstore terbesar di Amerika terpaksa menutup hampir semua tokonya.

Aku sendiri termasuk yang merasa sedih dengan fenomena ini. Bukannya apa-apa, tapi nggak kebayang rasanya kalau sampai dunia harus kehilangan toko-toko buku terbaiknya karena orang sudah tidak merasa perlu mampir untuk browsing buku-buku terbaru, atau memegang wujud buku yang sesungguhnya ketika membaca. Semua bisa dibeli dan didownload secara online kok! Jauh lebih praktis. Tidak perlu membawa beban berat kalau harus traveling, bahkan bisa mengurangi jumlah pohon yang ditebang! Sepertinya ini solusi yang indah untuk semua pihak (well, kecuali mungkin untuk Borders dan toko-toko lain yang terancam bangkrut!)

Tapi tetap saja, ada rasa sedih yang tidak bisa terlukiskan ketika aku sadar kalau akulah orang satu-satunya di kursi ruang tunggu Airport O’Hare di Chicago yang memegang buku dalam wujud sesungguhnya, sementara semua orang lainnya sibuk membaca dari alat canggih mereka. Bahkan aku tidak bisa mengintip judul buku yang sedang mereka baca (salah satu kegiatan favoritku kalau sedang duduk menunggu bersama orang-orang lain). Kalau sudah begitu, aku hanya bisa memeluk bukuku erat-erat, seakan takut di detik berikutnya bukuku itu bakal berubah wujud ke bentuk online =p

Borders…Now and Then

Kesedihan itu berlanjut ketika aku sempat melewati toko Borders di Los Angeles. Bangunan besar berlantai dua itu terlihat kosong dan gelap, sementara plang namanya masih belum dilepaskan. Hal yang sama juga terlihat di Washington, D.C. Toko Borders yang ironisnya berjarak hanya beberapa blok dari hotel tempatku menginap, tampak temaram dari kejauhan. Jendelanya yang tembus pandang memperlihatkan deretan rak kosong di tengah ruangan luas. Miris rasanya, apalagi saat aku membayangkan betapa menyenangkannya kalau Borders di dekat hotel itu masih buka. Bisa-bisa tiap malam aku nongkrong di sana! =D

Salah satu dari segelintir Borders yang masih buka adalah di Pentagon City, sedikit di luar DC. Itupun ternyata sudah diperkecil dari luas aslinya. Koleksi bukunya tidak terlalu banyak (at least tidak sebanyak Barnes & Noble yang sempat aku kunjungi), meski ada bagian khusus yang terdiri dari beberapa komputer untuk belanja online.

Dibandingkan Borders di Singapura, Borders yang ini nggak ada apa-apanya. Aku sendiri tidak tahu apakah Borders di Singapura masih selengkap dan sebesar dulu, karena sudah beberapa tahun aku tidak mampir ke sana. Tapi, dulu Borders adalah salah satu toko buku favorit dan paling aku andalkan setiap kali berkunjung ke Singapura. Semoga setidaknya toko yang di Singapura akan tetap bertahan menghadapi masa-masa sulit ini.

Some Still Survive…

Syukurlah, di tengah gempuran masa sulit ini, beberapa toko buku terbukti masih mampu bertahan. Karena acara konferensiku berlangsung di DC, maka di kota inilah aku paling banyak mendapat kesempatan untuk menjelajahi toko buku.

Toko buku besar yang masih bertahan adalah Barnes & Noble. Toko yang kerap disebut B&N ini mungkin masih mampu survive karena Nook, produk e-book readernya yang memiliki bentuk lucu berwarna-warni. Di DC, B&N yang kukunjungi terletak di daerah downtown, berjalan sedikit dari White House. Sempat nyasar keliling-keliling blok yang semuanya kelihatan mirip, akhirnya aku berhasil masuk juga ke toko dua lantai ini. Koleksinya masih lumayan lengkap, meski tidak sebesar dan selengkap B&N yang sempat kukunjungi di Los Angeles. Selain buku-bukunya, produk lain yang menggoda dari toko ini adalah pernak-pernik berupa totebag, magnet bertulisan quote pengarang terkenal, serta agenda warna-warni berdesain unik. Hati-hati kalap untuk yang tidak kuat iman!

Selain B&N, kebanyakan toko buku yang masih ramai dikunjungi adalah toko buku independen yang tidak termasuk kategori chainstore. Rata-rata toko ini memiliki keunikan tersendiri, dan sudah mempunyai base pelanggan tetap. Salah satu yang terkenal di DC adalah Kramer Books and Afterwords Cafe. Jadi toko ini memang pionirnya toko buku yang digabung dengan kafe. Ya, mungkin seperti Aksara dan Canteen-nya kalau di Jakarta. Letaknya di Dupont Circle, area yang penuh dengan kafe, galeri dan toko-toko mungil, dan tidak jauh dari Mayflower Hotel tempat aku menginap.

Ternyata, setelah tiba di sana, aku tidak bisa menahan ke-kalap-an =p Di toko inilah aku paling banyak memborong, dan parahnya lagi, masih di hari pertama di DC! Entah kenapa, suasana toko buku yang hangat, deretan buku di raknya yang rapi, bangku-bangku kayu tempat orang duduk membaca, dan suasana bar merangkap kafe di belakang toko yang ramai, benar-benar membuat orang betah dan jadi lupa diri (yea rite, alesan banget nih, hehe). Toko ini buka hingga jam 2 pagi, dan suasananya makin malam malah main ramai =) Incaranku di sini kebanyakan buku-buku paperback YA, yang harganya memang murah banget (sekitar 5-8 dollar). Lucunya, ketika mengamati deretan buku YA, kebanyakan dari mereka malah sudah diterjemahkan di Indonesia oleh Atria. Good job!

Selain independent bookstore, second hand bookstore alias toko buku bekas juga masih banyak bertebaran di Washington. Second Story Books salah satunya, masih terletak di area Dupont Circle, sempat aku kunjungi juga di suatu siang yang panas. Beberapa rak buku dengan sign “Sale” , “All $1”, dan “3 for $5 terlihat di samping bangunan toko. Tampak orang-orang berjongkok melihat-lihat buku murah yang ditawarkan. Namun karena cuaca yang amat panas, aku memutuskan untuk masuk ke dalam saja.

Toko yang sejuk dan harum buku tua langsung membuat semangatku bangkit. Rak-rak bukunya dipadati oleh buku dalam berbagai ukuran, tapi sudah dipisahkan dengan rapi sesuai topik dan nama pengarang berdasarkan urutan abjad. Untuk buku-buku fiksi, rata-rata kondisinya masih bagus, dengan harga jual setengah dari harga asli. Aku berhasil mendapatkan buku Jhumpa Lahiri dengan harga kurang dari 5 dolar setelah didiskon, dan masih dalam kondisi seperti baru.

Sayang, butuh waktu yang lama untuk browsing buku di toko ini, dan aku saat itu lagi diburu-buru untuk ke acara selanjutnya. Jadi kurang puas juga sih, dan cuman berhasil mengantongi dua buah buku saja (sebenernya, memang sudah mulai tanda-tanda bokek sih, hehehe). Overall toko buku second memang sangat layak untuk dikunjungi kalau sedang jalan ke Amerika, karena banyak judul-judul aneh yang susah dicari di tempat lain, dan sebagian besar buku masih dalam kualitas yang sangat baik.

My Sin-List =)

Dan inilah daftar dosa selama dua minggu di Amerika…Kebanyakan memang buku YA dan children books yang rada susah dicari di sini. Kerusakannya nggak parah banget sih, belum bisa untuk beli Kindle kok =D Tapi sempat membuat koperku sedikit overweight, dan terpaksa diungsikan sebagian ke dalam backpack…Moral of the story? Mendingan bawa tas cadangan daripada menyesal kemudian,hehe…

From Kramer Books:

Life As We Knew It, This World We Live In, The Dead & The Gone (Susan Beth Pfeffer): Trilogi dystopian YA yang digadang-gadang nggak kalah seru sama Hunger Games dan Chaos Walking Trilogy. We’ll see!

Mockingbird (Kathryn Erskine): banyak endorsement dari blogger luar negeri, jadi penasaran sama buku yang memenangi banyak penghargaan ini.

Will Grayson, Will Grayson (John Green & David Levithan): duo penulis keren bersatu dalam satu buku YA. Tempting!

The Sixty Eight Rooms (Marianne Malone): Belum pernah denger tentang buku ini, tapi secara impulsif membelinya karena efek cover dan sinopsis =D

From Second Story Books:

Lily’s Crossing (Patricia Reilly Giff): sudah ada dalam wish list sejak lama, dan beruntung bisa dapet buku secondnya dengan harga super bargain =)

Interpreter of Maladies (Jhumpa Lahiri): Salah satu pengarang favorit yang buku-bukunya selalu menyenangkan.

From Barnes & Noble:

Fahrenheit 451 (Ray Bradbury): Buku klasik yang sudah ada di wishlist sejak lama juga. Harganya murah, hanya 6 dollar =)

Speak (Lauren Henderson): Penulis fenomenal yang karyanya terlambat aku kenal =p Ini buku perdananya yang menarik perhatian dan memenangkan banyak pernghargaan

From Borders:

Ginger Pye (Eleanor Estes): melengkapi koleksi buku Newbery =)

 

Oiya, satu hal lagi yang aku sadari setelah pulang ke tanah air, ternyata kita sudah cukup beruntung hidup di Indonesia. Selain toko buku yang pamornya masih lebih tinggi dibandingkan dengan e-book reader, judul-judul buku di sini pun bisa dibilang cukup baru dan lengkap. Hampir semua buku baru disana sudah dijual juga disini, bahkan beberapa (seperti Periplus) menjual dengan harga yang relatif murah. Sedangkan untuk buku terjemahan, kebanyakan judul baru rata-rata sudah diterjemahkan oleh penerbit Indonesia, termasuk Atria yang sangat rajin menerjemahkan buku-buku YA keluaran terbaru. Lega rasanya mengetahui kalau Indonesia kini memiliki akses yang termasuk mudah untuk perbukuan. Mungkin yang sedikit mengganjal adalah harga buku (termasuk terjemahan!) yang masih termasuk tinggi bila dibandingkan dengan di negara maju seperti Amerika.