Tags

, , , , ,

Judul: Knock Three Times

Penulis: Marion St John Webb

Penerbit: Atria (2010)

Halaman:257 p

Beli di: Gramedia Grand Indonesia (IDR 34,9k, disc. 30%)

Molly dan Jack, sepasang saudara kembar, sangat bersemangat menyambut hari ulang tahun mereka. Terutama berharap-harap cemas menunggu kado impian masing-masing. Molly sangat mengidam-idamkan gelang perak yang bergemerincing, sementara Jack ingin memperoleh sekotak peralatan lukis. Harapan terakhir datang dari bingkisan kado Bibi Phoebe. Namun alangkah kecewanya Molly saat mendapati hadiahnya bukanlah gelang perak yang cantik, melainkan sebuah bantalan jarum kelabu.

Belum hilang kekecewaannya, malam itu juga Molly dikejutkan oleh bantalan tersebut yang mendadak berubah menjadi labu yang besar dan hidup, menggelinding hingga memasuki sebatang pohon di hutan belakang rumah mereka. Molly dan Jack tidak tinggal diam, mereka mengikuti bantalan kelabu itu hingga memasuki Dunia Mungkin.

Di dunia ini, mereka bertemu dengan berbagai tokoh menarik. Ada Nenek Nancy, penyihir baik hati yang memberi tahu mereka kalau bantalan alias labu kelabu itu ternyata adalah kurcaci jahat yang telah dikutuk dan kini kembali ke Dunia Mungkin untuk membalas dendam. Menurut Nenek Nancy, satu-satunya jalan untuk menyingkirkan si labu jahat adalah dengan mencari daun hitam. Sulitnya, daun ini bisa berada dimana saja di seluruh penjuru Dunia Mungkin, baik di kota maupun di daerah sekitarnya yang luas.

Jack dan Molly akhirnya berpartisipasi mencari daun hitam tersebut. Keduanya berusaha keras menghindari berbagai jebakan yang dirancang dengan licik oleh si labu kelabu dan para pengikutnya yang masih bertebaran di berbagai tempat. Tipu muslihat, intrik-intrik dan tokoh-tokoh yang tampak baik padahal sebetulnya jahat, mengikuti petualangan Jack dan Molly dalam mencari daun hitam, yang bagai mencari jarum di timbunan jerami.

Yang paling menyenangkan dari buku ini adalah perasaan nyaman dan tenang layaknya kembali ke masa kecil saat mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh orang tua kita. Perasaan familiar itu, dengan setting negeri antah berantah yang misterius, tokoh-tokoh baik dan jahat, makhluk-makhluk aneh namun menarik…Semuanya terasa pas dengan jalan cerita yang tidak seklise dongeng kebanyakan.

Lagi-lagi salah satu ramuan khas Atria yang memang menjadi jagoannya. Semoga saja di kemudian hari Atria lebih banyak menerbitkan kisah klasik seperti ini di tengah serbuan kisah cinta vampir dan manusia serigala =D