Tags

, , , , ,

Judul: The Count of Monte Cristo

Penulis: Alexandre Dumas

Penerbit: Bentang (2011)

Halaman:563 p

Beli di: Gramedia Central Park (IDR 79,000)

Masa depan cerah dan bahagia tampak berada di genggaman Edmond Dantes. Pelaut muda ini memiliki sejuta harapan tentang kehidupannya di masa mendatang. Karier yang cemerlang, rencana pernikahan dengan Mercedes, gadis yang dicintainya, serta keinginannya untuk membahagiakan sang ayah,membuat Dantes kadang merasa hidupnya seperti dalam mimpi.

Namun impian indah Dantes remuk seketika saat beberapa orang yang iri dengan keberhasilannya, bekerja sama untuk menghancurkan pemuda malang itu. Adalah Danglars, rekan satu kapal yang dengki kepadanya, serta Fernand, pemuda Catalan yang jatuh cinta setengah mati pada Mercedes, berkonspirasi untuk menjebak Dantes sehingga ia dituduh sebagai salah satu kaki tangan Napoleon Bonaparte, yang saat itu sedang dalam pengasingan di Pulau Elba.

Dantes yang terkejut dan tidak tahu apa-apa, berharap banyak pada wakil penuntut umum yang masih muda, Monsieur de Villefort, untuk membantu pembebasannya dari tuduhan yang mengada-ada tersebut. Apa daya, konflik kepentingan justru membuat Villefort tidak berpihak pada Dantes, sehingga pemuda tak berdosa itu akhirnya dijebloskan ke penjara Chateau d’Ifย  yang suram.

Hidup Dantes terasa hancur, dan keinginan untuk bunuh diri menguasainya, hingga suatu hari ia berhasil berhubungan dengan tetangganya di penjara bawah tanah, seorang pastor yang dianggap gila bernama Abbe Faria. Dari Abbe Faria Dantes belajar banyak hal dan ilmu. Namun pengetahuan paling berharga diperoleh Dantes saat Abbe Faria memberitahunya tentang letak harta tersembunyi di pulau Monte Cristo, yang tidak pernah dipercayai oleh siapapun.

Suatu kejadian menyebabkan Dantes berhasil melarikan diri dari penjara mengerikan tersebut setelah sekian tahun terkurung di sana. Tekadnya hanya satu, menemukan harta Monte Cristo, dan membalas dendam pada setiap orang yang memiliki kontribusi dalam kehancuran hidupnya. Kehilangan ayah dan wanita impiannya, membuat tekad Dantes untuk balas dendam semakin menggebu-gebu. Suatu rencana besar perlahan-lahan disusunnya, sampai suatu hari ia muncul sebagai seorang bangsawan misterius yang dikenal dengan nama Count ofย  Monte Cristo.

Dengan harta dan pengaruhnya, Dantes berhasil masuk dalam hidup musuh-musuhnya, yang kini telah menjadi orang-orang yang terpandang di masyarakat. Yang sangat menarik, Dantes berhasil menyembunyikan identitasnya dengan begitu baik, bahkan seolah tidak ada sangkut pautnya dengan kekacauan yang satu per satu muncul dalam hidup para musuhnya.

Ia masuk secara diam-diam, menyebarkan racunnya melalui peristiwa demi peristiwa yang seolah tidak berhubungan satu sama lain. Namun, penelitiannya terhadap masa lalu Danglars, Fernand dan Villefort, berhasil membawanya pada suatu rencana jenius yang tidak saja hanya melibatkan musuh-musuhnya itu, tapi juga menyentuh hidup setiap anggota keluarga yang bersangkutan. Sungguh suatu keasyikan tersendiri untuk menanti-nanti pembalasan keji apa yang telah direncanakan oleh Count of Monte Cristo, dan bagaimana kejadian-kejadian kecil menumpuk menjadi efek bola salju yang siap menghancurkan hidup ketiga musuh bebuyutannya tersebut. Terkadang aku merinding melihat sosok Monte Cristo yang seakan tidak memiliki hati seorang manusia. Begitu dingin, keji dan penuh mekanisme, bagaikan mesin pembalas dendam yang tak dapat dihentikan.

Hanya sekali Dantes merasa ragu, merasa telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya,bertindak seolah sebagai Tuhan yang menghukum umat manusia akibat dosa-dosa yang mereka perbuat.

Bahwasanya sekarang ini aku merasa ragu adalah karena aku tidak bisa melihat masa lalu dengan jelas. Masa lalu menghablur bersama waktu seperti benda-benda menghablur bersama jarak. Hal yang sama tengah terjadi kepadaku seperti terjadi kepada orang-orang dalam mimpi ketika mereka melihat dan merasakan satu luka, tetapi tidak bisa mengingat kapan mendapatkan luka itu (p.526)

Dan bagaimanakan Dantes akhirnya menemukan kedamaian yang sudah hilang sekian lama dalam hidupnya? Hal inilah yang mengakhiri buku ini dengan begitu indah. Well, revenge is indeed sweet, but could not make you live in peace.

Alexandre Dumas adalah seorang penulis klasik yang sangat piawai dalam mempermainkan emosi pembaca melalui plotnya yang berbelit rumit serta sulit ditebak, klimaks yang disusun perlahan sehingga menimbun rasa ingin tahu, serta penggambaran karakter tokohnya yang terasa begitu nyata. Aku sendiri merasa teraduk-aduk antara kasihan, simpati, hingga merasa benci dan tidak percaya pada kekejian Dantes alias Monte Cristo. Perubahan karakter Dantes yang begitu drastis sangat terasa setelah kehancurannya dalam jurang keputusasaan.

Bumbu lainnya yang juga penting adalah latar belakang sejarah Perancis yang begitu kental mewarnai kisah dalam buku ini. Mungkin karena memang spesialisasi Dumas (yang juga terkenal sebagai penulis Three Musketeers yang berlatar belakang sejenis) untuk mengolah fiksi di tengah sejarah bangsa Perancis, hasilnya adalah cerita yang semakin menarik untuk diikuti. Meski agak membingungkan, terutama bergulirnya era antara Napoleon yang diasingkan, lalu berkuasa kembali, hingga akhirnya dikalahkan untuk selamanya, justru menambah pengetahuan sejarah dan intrik politik yang terasa pas dengan cerita, apalagi sehubungan dengan karakter antagonis yang kebanyakan adalah para pejabat oportunis.

Untungnya, jalinan kisah yang cukup rumit ini terbantu dengan bab-bab yang dibuat pendek, serta terjemahan yang amat bagus dari penerbit Bentang. Sehingga meski ukuran huruf yang digunakan terlampau kecil, kita tidak dibuat kesulitan dalam menyelesaikan buku yang telah beberapa kali difilmkan ini. Oya, satu lagi saranku: jangan ragu untuk membolak-balik halaman buku kembali ke depan jika sudah mulai bingung dengan nama-nama karakter yang semakin ke belakang,semakin banyak jumlahnya. Lebih baik sedikit repot daripada kehilangan momen penting ditengah kisah yang mengasyikkan ini.

Note:Buku ini aku baca dalam rangka membaca dan posting bersama Blogger Buku Indonesia (BBI) di bulan Juni 2011. Pengalaman perdana dan ketagihan untuk bulan-bulan selanjutnya! =)

Advertisements