Tags

, , ,

Judul: One Day

Penulis: David Nicholls

Penerbit: Hodder & Stoughton (2010)

Halaman:437 p

Beli di: Periplus Bandara Soetta (IDR 85,000)

Selalu bingung untuk menyebutkan genre cerita romance ala chicklit yang ditulis oleh penulis cowok. Bila pernah mengintip buku-buku Nick Hornby, Tony Parsons atau Mike Gayle, mungkin One Day-nya David Nicholls bisa dikategorikan sebagai buku sejenis. Menilik begitu banyak pujian di bagian belakang buku dari para penulis terkenal, di samping juga pernah membaca tentang film-nya, membuatku tertarik dengan buku ber-cover eye catching ini.

Ceritanya sebetulnya sangat simpel, diawali dengan sepasang muda-mudi yang baru saja diwisuda dan siap untuk terjun ke dunia nyata setelah lulus kuliah. Emma Morley dan Dexter Mayhew, yang selama ini tidak terlalu kenal dekat, karena euphoria berlebih merayakan kebebasan mereka, akhirnya mengakhiri hari kelulusan di kamar sewaan Emma yang sempit. Tanggalnya adalah 15 Juli 1988.

Tanggal itulah yang mengawali persahabatan mereka di tahun-tahun selanjutnya. Setiap bab di dalam buku ini berlangsung di tanggal yang sama: 15 Juli. Dan Nicholls memang piawai menggambarkan perkembangan karakter Dexter dan Emma sehingga semuanya tampak begitu real, begitu dekat dengan pembaca, meskipun setting budaya Inggris yang kadang terlalu ekstrem memang membuat sedikit ilfil.

Bagaimana Dexter yang lahir di keluarga kaya dan tampak tidak memiliki tujuan hidup akhirnya bertransformasi menjadi seorang presenter TV terkenal. Sementara itu Emma, dengan idealisme dan mimpi-mimpinya akhirnya malah terjebak di pekerjaan meaningless di sebuah restoran Mexico.

Yang menyenangkan dari buku ini adalah budaya dari era berbeda yang diselipkan dengan cerdas di setiap babnya. Selain itu, mengamati perkembangan karakter kedua tokoh utama ini cukup menarik juga, dengan segala ups and downs yang mereka alami, krisis identitas di akhir usia dua puluhan, hingga pencarian pasangan hidup yang tak kunjung tiba di usia tiga puluhan. Bagaimana setiap tahunnya persahabatan mereka diuji oleh banyak hal: Dexter yang bermasalah dengan obat dan alkohol, Emma yang selalu pahit menyikapi hidupnya yang tak kunjung berhasil. Boyfriends and girlfriends come and go. Persahabatan yang tadinya amat dekat akhirnya merenggang karena terlalu banyaknya perbedaan yang ada.

Dan pertanyaan pembaca tentu hanya satu: kapan, tepatnya, Emma dan Dexter akan bersatu?

Meski predictable, buku ini masih lumayan enak untuk diikuti. At least karakternya tidak berkesan fake dan jalan ceritanya juga mengalir dengan enak. Tahun demi tahun berlalu, dan di akhir cerita, Emma dan Dexter sudah terasa seperti teman lama kita. Yang agak disayangkan adalah ending yang agak terkesan “maksa” (no, I’m not gonna tell you what it is, I do hate spoilers, you know).

Dan aku juga tidak terlalu mengerti apa yang menyebabkan buku ini dipuja puji setinggi langit. Karena, meskipun menyenangkan, buku ini jauh dari kata “jenius” seperti yang disebut-sebut dalam endorsementnya. Meski begitu, tidak ada salahnya juga sih untuk menonton filmnya, Jim Sturgess dan Anne Hathaway tampak cocok dengan karakter Dex dan Em di dalam buku.