Tags

, , ,

Judul:Dari Datuk ke Sakura Emas

Penulis: A.Fuadi, Alberthiene Endah, Andrei Aksana, Asma Nadia, Avianti Armand, Clara Ng, Dewi Lestari, Dewi Ria Utari, Happy Salma, Icha Rahmanti, Indra Herlambang, M.Aan Mansyur, Putu Fajar Arcana, Sitta Karina

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)

Halaman:166p

Bought at: Gramedia Grand Indonesia (IDR 40k)

Buku ini adalah sebuah contoh nyata dari pepatah: There is always a silver lining at the end of the tunnel. Dalam masalah yang kelam, selalu ada secercah harapan. Demikian pula yang terjadi saat Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin terancam ditutup oleh pemerintah karena kurangnya dana operasional. Menyedihkan. Namun kabar buruk itu tidak menyurutkan semangat para pencinta sastra untuk berjuang mempertahankan bangunan bersejarah tersebut. Mulai dari gerakan #koinsastra yang marak muncul di Twitter, akhirnya sejumlah penulis muda pun berinisiatif mengumpulkan cerpen mereka dalam sebuah buku, yang hasil royaltinya akan disumbangkan sepenuhnya untuk PDS HB Jassin.

Selain ingin ikut ambil bagian (meski kecil) dalam gerakan sastra ini, aku pun langsung tertarik melihat nama-nama yang tertera di sampul buku. Semuanya merupakan penulis kontemporer yang karya-karyanya sudah tidak asing lagi di dunia sastra Indonesia.

Sebut saja Alberthiene Endah, yang cerpennya merupakan salah satu yang paling berkesan buatku dari buku ini. Dalam kisah berjudul “Sebuah Keputusan”, Alberthiene dengan piawai menggambarkan saat-saat akhir kebersamaan sepasang kekasih yang terpaksa harus berpisah. Suasana murung begitu terasa, apalagi endingnya dibuat mengejutkan, begitu mendadak, membuatku tersentak sekaligus teringat terus akan cerita itu sepanjang hari.

Indra Herlambang lain lagi. Dengan gaya khasnya, ia berhasil menciptakan sebuah cerita pendek bernuansa mistis, namun tetap dengan sentuhan kocak. Selesai membaca “Pagar Soka” karangannya, aku merinding namun sekaligus terkekeh-kekeh, membayangkan kekalutan sebuah keluarga yang eyangnya tiba-tiba ingin menikah lagi dengan perempuan yang dicurigai sebagai dukun.

Entah disengaja atau tidak, kebanyakan cerita dalam buku ini memang mempunyai ending yang memilukan. Tragis dan ironis, kadang malah terlalu depresi, seperti cerpen Clara Ng yang mengisahkan tentang nasib naas seorang anak penderita autis.

Hanya ada beberapa cerita yang memiliki alur menyenangkan, sekaligus membuat hangat hati pembaca. Salah satunya adalah “Sambal Dadak” karangan Icha Rahmanti, menceritakan tentang seorang perempuan yang merantau ke Singapura dan sedang kangen berat dengan sambal dadak buatan mamanya. Segala daya upaya ia kerahkan agar dapat membuat sambal yang rasanya persis seperti buatan si mama. Berbagai kenangan tentang mama semakin membuatnya kangen rumah dan tanah air.

Favoritku yang lain adalah “Pagi di Taman”, karya Avianti Armand. Ceritanya begitu sederhana namun menyentuh, tentang dua orang laki-laki tua yang sudah bersahabat sejak lama dan sedang duduk mengobrol di sebuah taman. Di tengah obrolan, topik tentang masa lalu sesekali menyeruak, menimbulkan perasaan sendu dan miris, namun sekaligus hangat. Cerita yang kuat tidak perlu alur berbelit, kadang yang sederhana namun bisa bercerita banyak, itulah yang membuat suatu cerita menjadi indah.

Keempat belas cerita dalam buku ini membawa kita terombang-ambing, mulai dari cerita berbau adat, bersetting di Jepang, bertokoh perempuan muda sampai laki-laki tua. Semua membawa kita ke dimensi yang berbeda, dengan gaya penceritaan masing-masing yang unik namun sama kuatnya. Membaca tulisan A.Fuadi yang bertutur detail, dengan Sitta Kirana yang bergaya ala teenlit, tentu menimbulkan kesan berbeda, namun sama mengasyikkannya. Terima kasih sudah menghadirkan sebuah buku yang sangat berharga. Semoga akan ada lagi kelanjutannya (tentu setelah PDS HB Jassin terselamatkan!)