Tags

, ,

Judul:Excuse Moi

Penulis: Margareta Astaman

Penerbit:Gramedia Pustaka Utama (2011)

Halaman:138 p

Beli di: Gramedia Central Park (IDR 35,000)

Seharusnya di sampul depan buku ini ada sekelumit warning: Only for Open Minded People!

Membaca buku ini harus siap mental, buka mata hati dan pikiran seluas mungkin, karena Margareta Astaman membahas topik yang selama ini selalu dianggap tabu: Suku, Agama, dan Ras. Jadi tidak heran, judul bukunya pun seolah ingin meminta izin pada pembaca untuk mengeluarkan opini dan uneg-uneg tentang hal-hal “terlarang” itu: Excuse Moi!

Margareta yang akrab disapa Margie adalah seorang perempuan Indonesia keturunan Cina. Di sepanjang buku, Margie bercerita dengan lugas tentang perjuangannya mencari identitas sebagai kaum minoritas di Indonesia. Kisahnya semakin kompleks ketika ia pindah ke Singapura untuk melanjutkan studinya.

Di bagian pertama buku, Margie mengulas seluk-beluk kebimbangannya dalam menentukan “siapa gue sebenarnya?” Jauh di dalam lubuk hatinya, Margie selalu merasa sebagai orang Indonesia, meski di tubuhnya mengalir 50% darah dari leluhur Cina. Kebingungannya semakin menjadi-jadi saat di Singapura ia pun tidak bisa menggunakan jawaban “Indonesia” untuk setiap kolom pertanyaan yang menyangkut “Ras”. Ya iyalah, Indonesia itu kan negara, bukan termasuk jenis etnis. Margie sendiri merasakan kebimbangan yang luar biasa akibat dirinya yang termasuk dalam golongan “Cina tanggung”. Oleh kelompok Tionghoa, Margie dianggap “kurang Cina”. Sebaliknya, dirinya juga tidak diterima 100% oleh kelompok yang mengaku “pribumi”. Jadinya, ya kentang (kena tanggung) banget!

Masuk ke bagian kedua buku, Margie membahas lebih dalam tentang perbedaan antar ras. Bahkan di etnis Cina sendiri pun, terdapat perbedaan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Di Jakarta misalnya, orang Cina yang tinggal di daerah Kota dengan yang tinggal di daerah Kelapa Gading, sudah memiliki perbedaan tersendiri. Sementara itu banyak stereotype yang masih diberlakukan semena-mena bagi warga keturunan Cina: pelit, jago bisnis, pengusaha kaya, dan lain sebagainya yang tentu saja tidak benar.

Dan bagian terakhir adalah bagian yang paling “seru”, apalagi kalau bukan masalah percintaan? Seperti quote Margie di awal bab, seakan-akan masalah yang timbul belum cukup, masih pula harus ditambah dengan bumbu asmara. Hehehe… Masalah hubungan antar suku dikupas tuntas oleh Margie di sini, lengkap dengan beberapa contoh kasus yang sempat dialami olehnya pribadi, serta oleh teman-temannya. Tentu dengan gaya yang santai dan menggemaskan, seperti saat ia memperkenalkan PPBA atau Persatuan Pacaran Beda Agama, yang terdiri dari pasangan-pasangan beda agama (dan suku bangsa) yang terpaksa backstreet akibat hubungannya tidak disetujui oleh orang tua. Juga analogi antara Siti Nurbaya dan Malin Kundang yang menggambarkan perilaku anak muda jaman sekarang terhadap orang tuanya.

Membaca buku ini serasa berkaca dengan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Semboyan yang amat dibanggakan bangsa kita, “Bhinneka Tunggal Ika”, bisa jadi memang masih sekadar semboyan belaka. Praktiknya, di masyarakat masih banyak terjadi diskriminasi, mulai dari bentuk terkecil seperti dikatain “Dasar Cina!” oleh pengamen karena kita menolak memberi uang, atau dalam skala yang lebih besar, kerusuhan yang terjadi tahun 1998 lalu.

Buku ini akan membuat siapapun merasa relate dengan penuturannya. Untuk yang memiliki darah Cina seperti saya, pasti akan mengangguk-angguk sambil tertawa kecut mengenang berbagai problematika yang terasa familiar, sekaligus tersipu malu mengingat segala akal bulus yang dilakukan demi agar tidak disangka bagian dari “geng” Cina. Sedangkan untuk kelompok yang tidak memiliki darah keturunan, pasti akan merasa familiar juga dengan sistem pengkotak-kotakkan yang sudah mendarah daging di masyarakat kita.

Margareta Astaman mungkin memang merupakan penulis muda, namun lewat karyanya ia telah mampu membukakan perspektif baru dengan gayanya yang khas: spontan, jujur dan tidak pretensius. Kebimbangannya dalam menganalisis setiap persitiwa serta pencarian identitasnya yang tanpa henti justru menjadi bumbu menyegarkan yang kerap muncul di sepanjang buku. Ia berhasil memikat pembaca dengan bahasannya yang ringan dan menghibur terhadap isu sosial dan budaya yang termasuk berat. Dan berhati-hatilah untuk pembaca yang tidak siap membuka pikiran dan menguatkan mental. Toh Margie sudah meminta permisi lewat judul bukunya!