Tags

, , , ,

Judul:The Sorceress

Penulis: Michael Scott

Penerbit:Matahati (2010)

Halaman:620 p

Beli di:Pesta Buku Jakarta 2010 (IDR 70,000)

Ini adalah buku ketiga dari seri The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel karya Michael Scott, seorang ahli mitologi Yunani yang sangat piawai mengadaptasi pengetahuannya tentang dunia para dewa ke dalam jalinan cerita petualangan seru yang memikat.

Di dua buku pertama (The Alchemyst dan The Magician), kita sudah diperkenalkan pada dua tokoh utama kisah ini, si kembar Josh dan Sophie Newman yang ternyata merupakan pasangan kembar yang dibicarakan dalam legenda, termasuk dalam Codex yang ditulis Abraham si Magus. Keduanya adalah kunci untuk mencegah terjadinya hari kiamat bagi umat manusia, saat Dee si Magician berhasil merebut Codex dan membantu para Tetua Gelap berkuasa kembali di bumi.

Dalam buku pertama dan kedua, si kembar ditemani oleh Nicholas dan Perenelle Flamel, manusia abadi yang seumur hidupnya selalu berperang dengan para Tetua Gelap, dan dikejar-kejar oleh John Dee yang merupakan pembantu paling setia para Tetua. Setelah bertualang di San Francisco dan Paris, maka dalam buku ketiga ini si kembar dan Nicholas melarikan diri ke London untuk mencari Gilgamesh yang dapat mengajari Sihir Air kepada Josh dan Sophie.

Sayangnya, London adalah kota kekuasaan Dee dan para makhluk sihir gelap lainnya, termasuk pembantu para dewa dan makhluk purba yang mengerikan, sehingga kejar-kejaran yang terjadi semakin bertambah brutal. Adu cepat dan pamer ketangkasan sihir menjadi bumbu penyedap cerita.

Sementara itu, Perenelle yang ditahan di Penjara Alcatraz berusaha keras untuk kabur dari pulau tersebut dan bergabung dengan suaminya serta si kembar. Perenelle berpacu dengan waktu, sebelum monster-monster yang tertidur di Alcatraz dibangunkan untuk merusak dunia.

Membaca serial ini benar-benar penuh dengan action yang memompa adrenalin. Memang, kadang ada bagian yang kurang masuk akal, tapi siapa yang peduli? Ini adalah cerita fantasi yang memang bertujuan memicu imajinasi pembaca hingga titik terliar. Karakter di dalamnya, meski menarik, sayangnya terlalu banyak, sehingga kadang kita sudah lupa siapa tokoh yang terlibat, apalagi konflik yang sambung-menyambung menambah kerumitan cerita. Scott kadang terlalu asyik meramu ketegangan dengan menghadirkan makhluk yang makin lama makin ganas, tapi lupa untuk mendalami karakter tokoh utama, sehingga kadang kita merasa sulit berempati dan mengenali siapa mereka sebenarnya.

Tapi sayang rasanya kalau tidak mengikuti serial ini sampai habis (rencananya masih ada beberapa buku lagi, yang paling dekat tanggal terbitnya adalah The Necromancer, dijadwalkan terbit versi terjemahannya pada bulan Januari 2011), apalagi ramalan dalam Codex menyebutkan bahwa si kembar adalah “dua yang menjadi satu, satu yang mencakup segalanya”. Dan ini tidak akan pernah bisa ditebak apa artinya, kecuali kita mengikuti cerita sampai akhir!