Tags

, , ,

Judul: The History of Love (Sejarah Cinta)

Pengarang: Nicole Krauss

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2006)

Halaman: 333 p

Beli di: GramediaShop.com (Rp 40000, diskon 10%)

Oke, ini emang buku lama..Tapi nggak tau kenapa, gara-gara baca reviewnya di Amazon, kok jadi tertarik. Dan ternyata udah nggak ada di toko-toko buku, jadi akhirnya belanja online deh =)

Menurut kebanyakan review, buku ini tuh termasuk buku yang “haunting“. Kalo terjemahan Indonesianya, apa ya…hmm..”menghantui” gitu? hueheuheue….Ya pokoknya, endingnya tuh bikin kita terbayang-bayang terus sampai beberapa saat setelah selesai membaca.

Ceritanya berputar di antara tiga tokoh utama, yang awalnya nggak ada hubungan satu sama lain. Leopold Gursky, pria tua kesepian yang mengungsi ke Amerika dari tanah kelahirannya di Polandia pada zaman Nazi memorak-porandakan desanya. Lalu ada Alma Singer, gadis remaja yang dinamai menurut nama tokoh sebuah buku berjudul The History of Love, buku yang sangat bersejarah bagi kedua orang tuanya. Juga ada Zvi Litvinoff, penulis buku The History of Love yang hidupnya sangat misterius.

Demikian cerita ketiga orang ini saling bertautan satu sama lain, seperti benang-benang kusut yang diurai perlahan oleh sang pengarang, Nicole Krauss. Gaya narasi yang berbeda antar tokoh yang dibuat secara cermat, membuat kita mudah berdaptasi dengan masing-masing karakter dan mengenal pribadi mereka lebih dalam. Bagaimana hidup mereka yang tampak tidak berhubungan satu sama lain, pelan-pelan mulai terkuak. Latar belakang kota New York yang dipenuhi imigran dari seluruh dunia juga terasa sangat pas dengan cerita ini.

Ada juga beberapa karakter sampingan yang ternyata memegang peranan penting dalam cerita ini: Bird, adik laki-laki Alma yang fanatik terhadap agamanya dan menganggap dirinya salah satu orang pilihan Tuhan; Bruno, sahabat Leopold yang setia; dan Isaac Moritz, pengarang terkenal yang merupakan bagian masa lalu Leopold.

Sampai akhir cerita, ada beberapa pertanyaan kita yang masih belum terjawab. Penasaran sih pastinya, tapi mungkin inilah sebabnya buku ini disebut-sebut sebagai buku yang “haunting“. A very nice experience, indeed.