Tags

, , , ,

Judul: The Hunger Games

Pengarang: Suzanne Collins

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2009)

Halaman: 406 p

Beli di: Gramedia Grand Indonesia (Rp 58000, diskon 30%)

Sudah lama aku nggak membaca buku yang bikin aku nggak bisa berhenti membuka halaman demi halaman yang ada di dalamnya. Dulu, buku-buku serial Harry Potter mampu membuat aku seperti itu (bahkan di tengah-tengah jadwal ujian semesteran yang padat, aku bisa seperti terhipnotis dan nggak peduli dengan bahan-bahan ujian yang menumpuk!). Sekarang, aku menemukan satu serial lagi yang highly recommended, The Hunger Games.

Ceritanya bersetting di masa depan, saat Amerika Utara sudah tidak ada lagi, dan sebagai gantinya berdiri negara Panem yang beribukotakan Capitol. Panem terdiri dari dua belas distrik yang terisolasi satu sama lainnya. Di distrik kedua belas, hidup Katniss, seorang anak perempuan 16 tahun yang tinggal bersama ibu dan adik perempuannya. Kehidupan di distrik dua belas sudah sangat menderita, terutama karena distrik itu adalah salah satu distrik termiskin di Panem, sehingga survival adalah tujuan utama hidup di sana.

Tapi masalah tidak berhenti sampai di situ. Akibat pemberontakan dari distrik-distrik terhadap Capitol bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah hukuman yang harus dijalani warga dari tahun ke tahun. Setiap tahunnya, dipilih secara acak seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki untuk mewakili distriknya masing-masing dalam sebuah acara reality TV berjudul Hunger Games. Di sana, mereka dipaksa untuk saling membunuh satu sama lain, sehingga pada akhirnya, hanya ada satu orang pemenang yang bertahan hidup di akhir acara.

Ketika adik perempuannya terpilih sebagai wakil dari distrik mereka, Katniss langsung bersedia menggantikan posisi adiknya. Dan dimulailah hari-hari berat untuk bertahan hidup, lengkap dengan karakter peserta dari distrik-distrik lain yang mengerikan, bencana demi bencana yang dirancang para juri untuk membuat acara lebih seru, sekaligus membuat para peserta lebih menderita.

Sebuah karya fenomenal menurutku. Suzanne Collins bisa membuat karakter utamanya mudah untuk disukai, meskipun kadang Katniss digambarkan sebagai anak perempuan yang cukup dingin, tangguh, dan mandiri, namun masih ditampilkan sisi-sisi manusiawinya yang mampu membuat pembaca merasa simpati padanya. Karakter Peeta, wakil anak laki-laki dari distrik dua belas, yang sampai akhir ditampilkan sebagai frenemy bagi Katniss, juga cukup misterius dan mengundang kepenasaran. Harusnya Stephanie Meyer belajar dari Suzanne Collins untuk membangun karakter narator yang meyakinkan seperti Katniss (move over, Bella Swan!).

Setelah membaca buku ini, aku jadi berpikir, apakah acara reality show di televisi yang semakin menjamur akhir-akhir ini, mampu menjadi seekstrim seperti dalam buku The Hunger Games? Bukan hanya reality TV yang mewakili budaya manusia dewasa ini yang mampu membuat pembaca tercengang, tapi ketidakadilan yang diwakili oleh penguasa Capitol sepertinya sangat familiar dengan kehidupan kita sekarang. Alur yang cepat, dan suasana mencekam yang ditampilkan, membuatku tidak sabar untuk menantikan kelanjutan serial ini, Catching Fire, yang sayangnya masih sibuk diterjemahkan oleh pihak Gramedia. Mudah-mudahan saja tahun ini bisa terbit!

Advertisements