Tags

, ,

perahu kertasJudul: Perahu Kertas

Pengarang: Dee

Penerbit: Bentang Pustaka (2009)

Halaman: 444 p

Beli di: BukuKita.com (Rp 69.000, diskon 15%)

Dua tokoh utama novel ini, Kugy dan Keenan, memiliki banyak kesamaan, sekaligus perbedaan yang saling melengkapi. Keduanya sama-sama nyentrik, sama-sama berbintang Aquarius, sama-sama kuliah di Bandung, dan sama-sama ingin meraih mimpi yang tidak biasa.

Kugy adalah seorang cewek cuek, pintar menulis, dan bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng alias fairy tales. Benaknya selalu dipenuhi tokoh-tokoh khayalan, mulai dari yang berbentuk sayur mayur sampai binatang peliharaan. Kerjaannya sehari-hari adalah curhat pada Dewa Neptunus melalui kertas yang dilipat menjadi perahu, dan diluncurkan di air. Sementara Keenan, cowok ganteng yang jago melukis, punya impian menjadi seorang pelukis yang sukses, meskipun harus menentang keinginan ayahnya yang ingin ia meneruskan perusahaan keluarga.

Keduanya bertemu di Bandung, akhir tahun 90-an, dan menjajaki masa-masa kuliah bersama-sama. Ternyata, perbedaan bakat keduanya malah menjadi sumber inspirasi satu sama lain, tanpa sadar menimbulkan perasaan sayang juga di hati masing-masing. Tapi berbagai situasi yang tidak menguntungkan justru selalu menghambat keinginan mereka untuk menjalani hidup bersama-sama.

Nah…membaca premisnya saja, kita sudah di”paksa” untuk tahu akhir jalan ceritanya.. Terus terang, aku agak kaget juga membaca karya terbaru Dee ini, yang sangat-sangat beda dengan gaya penulisannya yang biasa. Aku termasuk penggemar seri Supernova, terutama edisi terakhir, Petir, yang menurutku mampu menghadirkan salah satu karakter utama paling manusiawi dalam novel Indonesia. Sayangnya, di Perahu Kertas, aku nggak mampu menyelami jiwa Kugy maupun Keenan. Pesan yang dibawa memang menarik, tentang mencapai impian dan cita-cita, meski kadang harus melalui jalan yang berliku. Tapi aku nggak bisa membawa diriku untuk bersimpati dengan kisah cinta Kugy dan Keenan, yang terlalu bertele-tele, yang didominasi oleh perasaan-perasaan terpendam yang terkadang terlalu dibesar-besarkan..Dan membacanya jadi terasa sangat berat untukku, terutama karena aku sudah bisa menebak jalan ceritanya bahkan sebelum separuh buku.

Aku pernah berkomentar pada seorang teman, baca buku ini seperti sedang baca karya Dee yang mundur sekitar 10 tahun, terutama dengan penuturannya yang bergaya ABG. Dan alangkah terkejutnya aku, karena di bagian penutup, Dee memang bercerita kalau tulisan ini pertama kali dibuat sekitar 10 tahun yang lalu, dan baru akhirnya disempurnakan belakangan. Jadi mungkin, permasalahannya bukan terletak pada tulisan Dee, tapi pada mood-ku yang telat kupasang mundur ke 10 tahun yang lalu! =)

Advertisements