Tags

, ,

girl with dragon tattooJudul: The Girl With The Dragon Tattoo

Pengarang: Stieg Larsson

Penerbit: Vintage Crime/Black Lizzard (2009)

Halaman: 644 p

Beli di: Kinokuniya Plaza Senayan (Rp 105.000, diskon 10%)

Sebenernya buku ini termasuk yang udah lama direkomendasikan sama Amazon dan situs-situs lainnya…Tapi entah kenapa aku belum tertarik untuk beli…Sampai waktu kemarin ini jalan ke Gramedia, liat terjemahannya udah mejeng di rak dengan judul yang sama. Akhirnya aku tergoda untuk beli, pas liat harganya, ups, mahal juga ya, hampir 80 ribu rupiah. Padahal aku tau pasti, harga buku bahasa Inggrisnya yang versi mass paperback cuma beda tipis.

Akhirnya pas jalan ke Kinokuniya di Plaza Senayan, cari buku ini, eh…ternyata tinggal satu biji. Meskipun covernya beda sama versi yang aku incer, tapi akhirnya aku beli juga, mumpung lagi kena diskon 10%. Langsung dilahap dalam dua hari, sampe mata rasanya udah kunang-kunang.

Premis cerita buku ini sebenernya sangat menjanjikan, sedikit mengingatkan dengan gaya novel misteri klasiknya Agatha Christie, dengan tokoh-tokoh dari keluarga kaya yang terpandang. Settingnya di Swedia, memang sedikit menyusahkan kita untuk beradaptasi dengan nama-nama yang asing di telinga. Untung si pengarang masih memberikan petunjuk berupa pohon silsilah keluarga yang bisa kita jadikan acuan sepanjang cerita.

Harriet Vanger, salah satu pewaris tahta kerajaan bisnis keluarga Vanger, menghilang tanpa jejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Pamannya yang sudah tua sampai hari ini masih penasaran dengan misteri yang ada di balik hilangnya Harriet. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mempekerjakan seorang jurnalis investigasi, Mikael Blomkvist, yang kebetulan sedang menghadapi masalah dengan karirnya akibat perseteruannya di media melawan seorang konglomerat busuk Swedia.

Penyelidikan membawa Blomkvist ke kota kecil tempat kejadian berlangsung 40 tahun yang lalu. Datangnya bantuan dari seorang cewek jenius dengan penampilan nyentrik, Lisbeth Salander, membuat misteri tersebut sedikit demi sedikit mulai terkuak.

Awalnya, buku ini sangat menyenangkan untuk diikuti, karena plotnya menjanjikan misteri kelam yang membuat kita menebak-nebak hingga akhir cerita. Tapi lama-kelamaan, aku jadi bertanya-tanya sendiri apa yang membuat buku ini begitu menghebohkan dan jadi best seller di mana-mana. Perkembangan karakternya begitu monoton, kita dibuat sulit untuk bersimpati dengan Blomkvist (yang entah kenapa selalu bisa meniduri setiap tokoh wanita dalam buku ini) ataupun Lisbeth (yang adalah si gadis dengan tato naga) yang berkarakter nggak konsisten, terkadang digambarkan seperti terbelakang mentalnya, tapi di sisi lain juga sangat jenius. Kurangnya latar belakang tentang Lisbeth juga membuat aku bingung, kenapa harus dia yang dijadikan judul buku ini (kalau dalam versi asli Swedia-nya, judul buku ini adalah Men Who Hate Women), sementara kita tidak diberi kesempatan lebih jauh untuk mengeksplor karakternya.

Ending yang bertele-tele (sampai aku akhirnya bisa menebak akhir cerita jauh sebelum ceritanya tamat) dan terlalu banyaknya adegan sadis yang diceritakan dengan detil, menurutku adalah satu lagi alasan kenapa buku ini tidak ada bedanya dengan cerita kriminal sejenis. Intinya, fenomena buku ini mungkin hanyalah kehebatan dari tim pemasaran dan penerbitannya saja. Meninggalnya si pengarang, Stieg Larsson, tidak lama setelah merampungkan buku-buku yang nantinya akan menjadi trilogi Millenium, bisa jadi malah dimanfaatkan pihak penerbit untuk lebih meng-endorse novel ini.

Membaca sedikit cuplikan sambungan novel keduanya yang ada di bagian belakang buku, The Girl Who Played With Fire, aku mendapat kesan kita akan diajak untuk lebih mengenal karakter Lisbeth, termasuk menyelami masa lalunya yang kelam. Mungkin belum terlambat untuk mulai bersimpati dengan tokoh perempuan ini, tapi aku sendiri ragu, apakah masih bersemangat untuk melanjutkan trilogi ini atau tidak.


Advertisements